Short
君のために、雲海を越えて

君のために、雲海を越えて

By:  ポンコツ書虫Completed
Language: Japanese
goodnovel4goodnovel
26Chapters
11.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

篠宮悠璃(しのみや ゆうり)は、夜中に熱冷ましの薬を探しに階下へ降りると、別荘の玄関が開け放たれていることに気づいた。 ぼんやりして戸を閉めようとしたその瞬間、ふいに、唇と舌が絡み合う艶めいた音が響いた。 自動照明がパッと灯り、目の前にはあらわな体が、何の隠しもなく晒されていた。 三日前に一度見かけたあの女が、夫の篠宮楓(しのみや かえで)に玄関のドア板に押し付けられ、激しくキスされていた。 彼女の頬はほんのりと紅潮し、眩しいほどに艶やかで、身体を震わせながら、楓に問いかける。 「社長、こんな堂々と私を家に連れ込んで、奥さんに怒られないの?」 「怒る?」楓は冷笑を隠そうともせず、「夫婦交換ごっこするって約束したんだぞ。あいつがお前の旦那のところに行く勇気もないくせに、俺に文句があるとでも?」 月村莉奈(つきむら りな)は首を傾け、楓に白い耳たぶを甘噛みされながら、ふと目を開いた。そこで、悠璃と目が合った。 だが莉奈は怯えることもなく、むしろゾクゾクと興奮しているようだった。瞳の奥には、刺激を楽しむ光がちらついていた。 「へぇ?本当に平気なの?奥さんが他の男と寝ても?」 楓は肩をすくめ、冷たく笑った。「ゲームなんだし、気にするわけないだろ。もし嘘だったら、バチが当たるさ」

View More

Chapter 1

第1話

“Jadi, ini adalah calon istri keduamu, Rasya?” Ucapan itu keluar dari mulut ibu mertua Binar seolah tanpa beban. 

“Iya, Ma. Namanya Nindi. Kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun, dan …” ada jeda yang diambil oleh Rasya sebelum melanjutkan. “Nindi sekarang sedang mengandung.”

“Benarkah?” Suara ibu mertua Binar terdengar penuh keterkejutan dan juga antusias. Tapi tak lama Perempuan itu melanjutkan, “Bagi Ibu, ini adalah kabar baik meskipun kalian melakukan hal yang salah. Jadi, berapa bulan kandungan Nindi?” 

“Baru jalan satu bulan, Bu.” Begitu Nindi menjawab. Suaranya terdengar mendayu-dayu bak gadis lemah lembut dan keibuan. 

“Bu, aku membutuhkan waktu untuk membicarakan ini kepada Binar. Ibu bantulah aku untuk bicara dengannya nanti.” 

“Tentu saja Ibu akan melakukannya. Lagi pula, sudah dua tahun kalian menikah tapi tidak ada tanda-tanda dia hamil. Ibu bahkan nggak tahu apa yang salah dengannya. Dia mengaku baik-baik saja saat dicek ke dokter, tapi nyatanya dia mandul. Tentu saja kalau sudah begini, dia harus merelakan diduakan.”

Seperti bom meledak tepat di atas kepala Binar, perempuan itu tercengang di tempatnya berdiri ketika mendengar obrolan sang suami dan sang ibu mertua. Tak disangka, mereka yang selama dua tahun ini memperlakukannya penuh dengan cinta, kini menusuknya dari belakang dan menghancurkan perasaanya. 

Mereka bahkan tampak tak berdosa saat membicarakan masalah perselingkuhan itu di belakang Binar. Seolah mereka sudah merencanakannya dengan matang kejahatan tersebut. Perhatian Binar kini beralih pada sosok perempuan asing yang duduk di samping sang suami. Perempuan itu tampak lebih muda darinya. Wajahnya manis dan tampak baik. Tapi, mana ada orang baik yang bersedia menjadi wanita kedua. 

Binar bisa merasakan hatinya hancur dan berhamburan di bawah kakinya. Genggaman tangannya pada tali tasnya menguat seolah ingin menghancurkan benda itu. Binar tak pernah menyangka hari ini akan dihadapkan kenyataan yang menyakiti hatinya. 

“Binar, kamu dari mana saja jam segini baru pulang?” 

Setelah sampai di rumah dengan susah payah membawa kepingan patah hatinya, pertanyaan itu segera didapatkannya dari ibu mertuanya. 

Bukan hanya itu, Rasya juga mendekat ke arahnya dengan wajah tampak khawatir. “Bi, aku menghubungimu dan nggak ada satu teleponku yang kamu jawab. Kamu baik-baik saja kan?” 

Jika Binar tidak mendengar sendiri pembicaraan Rasya dan ibunya siang tadi, mungkin sampai saat ini dia akan mempercayai jika lelaki itu masih mencintainya. Lelaki itu tampaknya mahir dalam berlakon. Lihat saja wajahnya, tidak tampak bersalah sama sekali sudah berkhianat di belakang istrinya. 

Binar tentu bukan orang bodoh. Meskipun dia sudah mengetahui semuanya, dia akan tetap pura-pura tidak mengetahui bejatnya sang suami. 

“Mas, aku minta maaf. Sebenarnya aku tadi dari mal dan berbelanja. Tapi, aku ketemu teman SMA dan kami mengobrol banyak hal sampai lupa waktu.” Binar menjawab sambil memaksakan senyum di bibirnya. 

“Seharusnya kamu mengabari orang rumah biar kami tidak khawatir.” Begitu kata ibu mertuanya.

Cih, pendusta!

“Iya, Bu. Maaf.” Binar menatap wajah ibunya dan menunjukkan penyesalannya. 

Tapi dia juga mencari-cari ekspresi perempuan itu yang barangkali akan menunjukkan rasa muaknya kepada menantu yang dianggap gagal memberinya cucu tersebut. Namun perempuan itu justru tampak biasa saja. Dia masih berakting seolah Binar adalah menantu kesayangannya. 

“Oh ya, Bu, aku tadi lihat baju yang sedang trend saat ini. Aku rasa itu cocok buat Ibu.” Binar menyerahkan satu paper bag untuk ibu mertuanya. “Bukalah.” Seolah tidak terjadi apa-apa, Binar masih memperlakukan perempuan itu seperti biasa. 

Ibu Rasya kemudian tersenyum lebar karena mendapatkan hadiah dari menantunya, lagi. Ya, lagi. Karena selama ini, Binar sangat perhatian dengan keluarga Rasya dan tidak pernah berhenti memberinya barang-barang mahal. 

“Wah, Binar, ini adalah baju yang Ibu mau. Beberapa hari yang lalu, Ibu melihat ini dan ngeri lihat harganya. Kamu serius memberikan ini kepada Ibu?” 

Dasar munafik. Di belakang Binar dia berkhianat, tapi ketika Binar membelikannya sesuatu, dia menerima dengan kedua tangan terbuka dan senyum lebar. 

“Untuk Ibu, tentu saja akan aku belikan. Ibu nggak boleh kalah sama teman-teman Ibu.” 

“Kamu benar-benar membuat Ibu terharu. Terima kasih, ya.” 

Binar hanya memberikan jawaban dengan sebuah senyuman kecil. Dia lantas pamit untuk naik ke lantai atas untuk beristirahat di kamarnya. Ada banyak hal bercokol di dalam kepalanya dan dia ingin memecahkan satu per satu. Terutama tentang Rasya yang sudah berani mengkhianati kepercayaannya. 

Setengah jam berlalu. Binar selesai membersihkan tubuhnya dan naik ke atas kasur. Rasya sudah ada di sana dan tengah sibuk dengan ponselnya. Menoleh pada Binar, lalu sebuah senyum muncul di bibirnya. 

“Bi, lain kali kalau kamu mau pergi setelah bekerja, kamu bilang ke aku ya. Biar kami nggak khawatir.” 

Namun Binar tampak tidak seperti biasanya saat berbicara kepada Rasya. “Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi,” jawaban Binar tak acuh. Membuat Rasya sedikit mengernyit dengan perubahan yang terjadi pada sikap sang istri. 

“Kamu kenapa? Nggak seperti biasanya. Capek ya?” 

Binar menggeleng. Lantas dia kembali bersuara. “Aku baik-baik saja. Hanya saja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Binar menatap suaminya dengan tatapan tegas yang selama ini tidak pernah ditunjukkan kepada Rasya. Membuat lelaki itu cukup terkejut. “Kita sudah menikah selama dua tahun. Sedangkan aku belum bisa memberikan anak kepada Mas. Apa Mas yakin baik-baik saja dengan itu?”

Binar bisa melihat suaminya salah tingkah. Sorot matanya mendadak sayu dan seketika menghindari tatapan Binar. “Kenapa kamu berbicara seperti itu, Bi? Aku sudah menikahimu dan sudah siap dengan kemungkinan apa pun yang terjadi. Dengan atau tanpa anak, aku rasa itu bukan masalah selama kita bisa bersama-sama untuk selamanya.” 

“Mas sungguh nggak punya keinginan untuk menduakanku dan mendapatkan anak dari perempuan lain?”

“Bi, mana mungkin aku mengkhianatimu? Kamu adalah istri terbaik.”  

Bedebah! Binar mengencangkan rahangnya untuk menahan kemarahan di dalam hatinya. Keinginannya untuk menghajar lelaki itu sampai mati berkobar kuat di dalam dirinya. Rasya terlalu mahir dalam berkelit. Binar mati-matian meredam kemarahannya agar tidak meledak. Sebisa mungkin dia mengikuti permainan suaminya. 

“Begitukah? Aku akan menyimpan ucapan Mas kalau masalah anak tidak akan memengaruhi hubungan kita.” 

“Kamu tidak perlu khawatir.” 

Namun seolah semesta ingin Binar menguak kebohongan suaminya, pukul satu pagi, getaran ponsel Rasya terdengar dan Binar bisa melihat pop up chat bernama Tono.

Tono : Mas, sepertinya aku sudah mulai mual-mual terus. Bisa kamu datang? Aku juga mau ditemani. 

Binar mengeratkan rahangnya. 'Kamu pikir aku sebodoh itu Mas? Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan.'

*** 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
26 Chapters
第1話
篠宮悠璃(しのみや ゆうり)は、夜中に熱冷ましの薬を探しに階下へ降りると、別荘の玄関が開け放たれていることに気づいた。ぼんやりして戸を閉めようとしたその瞬間、ふいに、唇と舌が絡み合う艶めいた音が響いた。自動照明がパッと灯り、目の前にはあらわな体が、何の隠しもなく晒されていた。三日前に一度見かけたあの女が、夫の篠宮楓(しのみや かえで)に玄関のドア板に押し付けられ、激しくキスされていた。彼女の頬はほんのりと紅潮し、眩しいほどに艶やかで、身体を震わせながら、楓に問いかける。「社長、こんな堂々と私を家に連れ込んで、奥さんに怒られないの?」「怒る?」楓は冷笑を隠そうともせず、「夫婦交換ごっこするって約束したんだぞ。あいつがお前の旦那のところに行く勇気もないくせに、俺に文句があるとでも?」月村莉奈(つきむら りな)は首を傾け、楓に白い耳たぶを甘噛みされながら、ふと目を開いた。そこで、悠璃と目が合った。だが莉奈は怯えることもなく、むしろゾクゾクと興奮しているようだった。瞳の奥には、刺激を楽しむ光がちらついていた。「へぇ?本当に平気なの?奥さんが他の男と寝ても?」楓は肩をすくめ、冷たく笑った。「ゲームなんだし、気にするわけないだろ。もし嘘だったら、バチが当たるさ」そう吐き捨て、皮肉な笑みを浮かべる。「それに、あいつは俺のことが狂おしいほど好きなんだ。他の男なんて眼中にない。交換ゲームなんて、できるわけがない」「桜井家のお嬢様の純愛さを知らないのか?」楓は誇らしげに眉を上げる。「十年以上も俺一筋。俺が事故で腎臓を壊したとき、自分の腎臓をくれるって言い出したんだぜ。俺が意識不明で寝てる間、正安寺まで登って祈りに行った。足を血まみれにしてまでなあ。それだけじゃない。俺のために将来を捨て、家族とも絶縁し、プライドも人格もかなぐり捨てた。俺が一番嫌ってた時期、ブスだとボケだと罵っても、なお俺の後にすがってきたんだぞ」楓は、悠璃の愛をまるで戦利品のように並べ立てる。「そんな女が、本当に相澤社長とくっつくと思うか?ていうかさ、交換ゲームなんて、ただの口実だ。女を家に連れ込むために適当に作った嘘だぞ。あいつが真に受けたけど、お前も信じてたの?」そして、二人は快楽の絶頂に達する。だがその同じ瞬間、悠璃は、底知れぬ絶望の闇へと堕
Read more
第2話
悠璃は知っていた。啓司には、それを現実にする力がある。彼は浜市の大物。ほんの指先一つ動かすだけで、街を揺るがす嵐を巻き起こすことさえできる男だ。婚姻届の名前くらい、裏でどうにでもできるはず。だからこそ、彼に頼るしかなかった。ここ数年、家族とも絶縁し、友も去り、誰も頼れる相手がいなくなった。最後に思い浮かんだのが啓司だけだった。けれど、彼女は、ほんの少しの希望すら持っていなかった。そんな彼女の思いを嘲笑うかのように、啓司は淡く笑った。「いいよ」「え?」思わず言葉を失う。「悠璃さんは今、僕に頼んでるんだよね?」彼は薄く微笑む。「頼みごとをするなら、それなりの態度がいるんじゃない?」「これは取引よ!」悠璃は歯を食いしばって叫ぶ。「言っとくけど、僕と莉奈は夫婦じゃない。だからその取引は成立しないよ」その一言で、頭の中に雷が落ちたような衝撃が走る。「嘘だろう?」「莉奈は僕の従妹さ。暇だったし、ちょっと手伝っただけ。自分の頭でよく考えてみな」そう言い終えると、啓司はあっさりと電話を切った。悠璃は、その場に立ち尽くすしかなかった。まるで全身が氷水に沈んだように、凍りついた。結局、あの交換ゲームなんて、全部作り話だったんだ。楓は最初から分かっていた。自分が他の男と関わるはずがないからこそ、「好きにすれば」と余裕ぶっていられたのだ。公平主義だと?そんなの、笑わせる!七年も楓の妻でいることが、まるで長い夢でも見ていたよう。そして、ついに夢が覚めた。悠璃が寝室に戻ったとたん、楓からメッセージが届いた。【もう寝た?】まるでプログラムされたAIのように、無意識に即レスしてしまう。【まだ】するとすぐに、ノックの音。上半身裸の楓が、扉の向こうに立っていた。胸元から首筋にかけて、色濃いキスマークが無数に刻まれている。その淫靡さに、胸の奥がかき乱される。悠璃は顔を上げて彼を見つめた。「どうしたの?」熱のせいで頬が赤く染まり、ぼんやりと光る電灯の下で、その赤みが一層際立つ。楓は眉をひそめ、額に手を当てる。「熱があるのか?」「大丈夫。薬飲んだから」「ふうん」彼が気のない返事をした。その時、セクシーなネグリジェ姿の莉奈が、彼の後ろからひょこっと顔を覗かせ、無邪気に笑った。その一瞬で、楓の関心は途切れる。「お姉さん、私、体調悪くて……薬、買って
Read more
第3話
外は、まるで天地が怒り狂ったかのような豪雨だった。マンションの排水も追いつかず、雨水はもうすぐで足首を飲み込みそうになっていた。悠璃はドアを開けた瞬間、激しい雨にズボンの裾をびしょ濡れにされて、ようやく傘を持ってきていないことに気づいた。慌てて二階に取りに戻ろうとしたとき、楓の部屋は、無遠慮に開け放たれていた。二人のじゃれ合う声は、何の遠慮もなく悠璃の耳に突き刺さる。「この賭け、どうやら莉奈の負けなあ」「つまらないね」莉奈は猫みたいに拗ねて、「こんな大雨なのに、文句一つ言わずに出ていくなんて!ほんと、楓お兄ちゃんが指示すれば何でもする。なんであんなに言いなりなの?つまらない、つまらなすぎる!」楓は大笑いした。「だから言っただろ?あいつは骨のない犬だって。いくらいじめても、ちょっと甘くすれば、すぐに俺にすがりついてくるさ」「やだぁ、ひどいね」「どうだ、降参だろ?じゃあ、約束通り……」声はだんだんと艶めかしくなり、莉奈は甘えた声でささやく。「楓お兄ちゃん、あたしの負け。今夜は、兄ちゃんの好きにして……」悠璃は、玄関で凍りついたまま動けなかった。全身の血が逆流するような衝撃、目が真っ赤に染まる。あと一歩で、二人の間に飛び込んで全てをぶち壊したくなる衝動にかられる。でも、動けなかった。ガラス越しに、二人の愚かな姿が揺れて見える。楓が黒い手錠をカチッと鳴らし、莉奈の手首にかける。「お姉さんはこういうのを付き合ってくれるの?」莉奈が笑いながら問う。「ベッドの上じゃ死んだ人と変わらん」楓は眉を上げて言う。「誰もがお前みたいにやんちゃなわけじゃないぞ」「楓お兄ちゃん、いっそ、私と結婚しちゃえば?」その後の声は悠璃にはもう何も届かなかった。傘も取りに行けず、ほとんど逃げるようにして、彼女は今夏一番の土砂降りの中へ飛び出した。瞬く間に全身がびしょ濡れになり、水たまりを踏みつけて泥だらけになった。警備員が慌てて駆け寄る。「奥様、どうして傘を持っていないんですか?この傘を使ってください!」でも、悠璃には何も聞こえなかった。ただ、雨に身を任せ、狂ったように歩き続けた。足元のぬかるみを踏みしめながら、携帯が鳴り響く。楓の苛立った声が響く。「1キロなのに、何でそんなに時間かかってるんだ?まだ帰ってこないの
Read more
第4話
悠璃はその場に立ち尽くし、頭の中が真っ白になった。全身の細胞が燃え上がるような熱さ、意識は朦朧として、まるで夢の中にいるみたいだった。楓の口元が動いても、何一つ耳に入らない。ふいに彼が怒鳴りながら近づいてきた。「お前、俺の言うことが聞こえないのか!」茫然としたまま、悠璃は口を開いた。「何?」「莉奈に謝れって言ってるんだ!」楓は怒鳴り、彼女の腕を乱暴に引っ張った。力が入らない。楓に押され、机の角に激しくぶつかった。全身を走る鋭い痛み――悠璃は震えながら、顔から血の気が引いていく。「痛い……」声はかすれ、喉の奥から絞り出すようにしか出なかった。「楓、私、病院に……」「とぼけるな!」楓は手を振り払って、軽蔑の目で睨みつけた。「お前、いつからそんなに言うこと聞かなくなったんだ?お前を篠宮家の妻にしたのは、素直でおとなしかったからだ。だけど、今のお前はどうだ?いつからそんな嫉妬深い女になったんだ?」嫉妬深い女?床に崩れ落ちた悠璃は、目の前で自分を見下ろすこの男が、自分をまるで犬のように扱っていることに気づいた。心の中の迷いも、未練も、すべて音を立てて消えていく。可笑しかった。どうしてこんな男を、何年も愛し続けてきたのか。どうして彼のために、未来も家族も捨ててしまったのか。ああ、自分は馬鹿だった。狂っていたんだ。彼のために全てを捨てた、ただの愚か者だ。悠璃は、苦しげに床から体を起こし、低く冷たい声で言い放つ。「バカ言わないで。私が、あの女に謝ることなんて、死んでもあり得ないわ」「もういいよ!」莉奈は涙声で口を挟む。「楓お兄ちゃん、お姉さんもきっとわざとじゃないし、私もちょっとケガしただけ……お姉さんもケガしてるみたいだし、先に病院連れて行ってあげて」その思いやりの言葉が、楓のプライドをさらに刺激した。素直だった悠璃が自分に逆らったという事実だけが、彼を苛立たせる。「お前、いい加減にしろ!」楓は荒い息をつきながら、悠璃の腕を引っ張り立たせた。無理やり謝らせようとしたその瞬間、悠璃の目がゆっくり閉じ、呼吸が荒くなった。そのまま、意識が闇の底に沈んでいく。「おい、悠璃!?」それが、彼女が最後に聞いた楓の声だった。次に目を開けたとき、もう昼過ぎになっていた。
Read more
第5話
バンッ!楓はその場で激怒し、手の届く限りの物を床へと叩き落とした。「よく言うね!お前、俺を脅すつもりか?」悠璃は咳き込みながらも、顔に熱が上って赤みが差した。腹部の痛みがぶり返すが、それでも一歩も引かず、毅然とした目で答えた。「そう思っても構わない」「ハッ、ハッ、ハッ!」楓は冷笑しながら、「お前、そんなに気骨があるなら、さっさと出て行け!二度とこの家に戻ってくるな!」そう叫ぶなり、彼は彼女の腕を乱暴に掴んでベッドから引きずり下ろした。それでも悠璃は、一度も言い訳や弱音を口にしなかった。ふらつきながらも、玄関まで歩くと、ちょうど莉奈と鉢合わせた。彼女の無様な姿を見て、莉奈は驚いたように口元を押さえる。「まあ、お姉さん?どうしたの、その格好……まさか家出?」莉奈はわざとらしく涙声になり、「もしかして……また私のせい?お姉さん、誤解しないで、私たち、ただのゲームだったの。本気じゃないし、楓お兄ちゃんも私を心配して……行かないで!行くなら、私が出て行くから!」そう言って、莉奈は大げさに背を向けて泣き喚き始めた。そして、彼女がくるりと振り返ったその瞬間、ドサッという轟音とともに、彼女は階段から転げ落ちた!「お姉さん!」彼女は絶叫しながら階下へと落ちていく。「もう謝ったのに、どうして私を突き落とすの?」楓は、靴も履かないまま部屋から飛び出した。「違う、私じゃ……」悠璃は混乱し、必死に弁解しようとした。だが、その言葉が終わる前に、バチンッと楓の平手打ちが、彼女の頬に叩きつけられた。悠璃は顔を押さえ、ただただ信じられない思いで楓を見つめていた。「お前に、がっかりしたよ」楓は頭を振り、階下へ駆け降りていった。彼は莉奈を抱きかかえ、怒りのまま振り返って悠璃に叫ぶ。「お前、人殺しするつもりか!わかってるのか?」「違う!私は……」全身の血が逆流し、これまで押し殺してきた感情がついに溢れ出した。「楓!私たち、何年一緒にいたと思ってるの?私がどんな人間か、本当に何も分かってなかったの?彼女の言うことだけを信じて、私一体何なの?」涙も怒りも混ざり、悠璃の目は真っ赤に染まる。その瞬間、腹部に激痛が走り、恐ろしい予感が頭をよぎった。下を向くと、白いネグリジェがゆっくりと赤く染まって
Read more
第6話
悠璃は妊娠していた。この子がやってきたのは、あまりにもタイミングが悪すぎた。手にした妊娠診断書を見つめながら、そっと自分のお腹に手を添える。この中に、小さな命が宿っている。お医者さんは厳しい表情で告げた。「篠宮さん、お体の状態はとても悪いです。今回も、かろうじて赤ちゃんを保てただけの状態です。これからはくれぐれも無理をしないでください。もしまた何かあれば、この子は……」悠璃はぼんやりとうなずいた。その日一日、彼女は病室のベッドで、何も考えられずにただ横たわっていた。夜、突然ドアが開き、楓が駆け込んできた。ベッドの脇に立ち止まり、抑えきれない感情が声に滲む。「悠璃、本当か?妊娠したのか?」悠璃は背中を向けたまま、何も答えなかった。楓はため息をつき、少しだけ優しい声になる。「なあ、もう意地張るのはやめよう?どうせ、莉奈を突き落としたのは悠璃だ。もし万が一のことがあったら、悠璃にも責任があるんだぞ。俺は悠璃のことを考えて、急いで莉奈を病院に運んだだけだ。やっと俺たちの子どもができたんだ。こんな時離婚なんて、もう怒るのはやめよう?」楓の声は柔らかくなり、そのまま靴を脱いでそっと彼女の隣に横たわる。その瞬間、彼女の体はびくりと震えた。彼は彼女のお腹に手を当て、優しく撫でる。「ここに、俺たちの子どもがいるんだな。悠璃、子どもが生まれたら、三人で遊園地に行こう。俺たちで育てて、成長を見守って……幸せな家庭を築こう。絶対にそうするから」楓は、甘い未来を約束してみせた。「悠璃、これからはもう昔みたいに外で遊びまくるのはやめる」その言葉に、悠璃の胸が激しく高鳴った。ふと下を見れば、楓の大きな手が、自分のお腹を包み込んでいる。決意していたはずの心が、突然ぐらりと揺れる。もしかしたら、この子は神様がくれた最後のチャンスなのかもしれない。楓が変わってくれる、二人でやり直せる唯一の希望なのかもしれない、と。そのとき、テーブルの上に置いた悠璃のスマホが不意に光った。新着メッセージ。【すべて準備できた。予定通り、明日の朝迎えに行っていい?】悠璃の指先が、わずかに震える。「予定って?」楓がその画面を目ざとく見つけ、眉をひそめて問いかける。「どこかに行くの?」悠璃はそっとスマホを伏せ
Read more
第7話
夜の病院は静まり返り、廊下には人影ひとつなかった。悠璃は裸足のまま、冷たい床を一歩一歩踏みしめながら、莉奈の病室へと近づいていく。病室のドアは半開きで、その隙間から中の会話がはっきりと聞こえてきた。楓のお母さんは、本当にそこにいた。彼女の顔は嫌悪で歪んでいた。「妊娠した?そんな馬鹿な!楓、ママは何度も言ったわよね。悠璃との結婚なんて絶対に認めないって。結婚したいって言うから仕方なく許したけど、今度は子どもまで作るなんて!」楓はうんざりしたように言い返す。「じゃあ、どうしたいんだ?」楓のお母さんは深く溜息をついて答える。「どうするって、そりゃもう産ませるしかないんだろ。他に方法なんてないわよ。だけど、私は、莉奈しか認めてないの!」彼女は冷たく鼻で笑った。「昔お見合いさせようとした時は嫌だって言ったくせに、今になって莉奈を好きになるなんて、一体何を考えているの?」「おばさん、そんなふうに言わないで……」莉奈は俯いて唇を噛みしめる。「大丈夫、私は楓お兄ちゃんを待てます。たとえ一生待つことになっても……」楓は黙って俯いた。「もう離婚しちゃいなさい!」楓のお母さんは鋭く言う。「子どもが産まれたら、離婚して、莉奈と盛大な結婚式を挙げて、大燕市中が羨むような……」だが楓は顔を上げ、きっぱりと否定した。「無理。あれは俺の子どもだ……」楓のお母さんは冷笑した。「今回の騒ぎで、あの女が本当に子どもを産むかどうかも分からないわよ。もしかしたら、楓が帰ったら離婚届が待ってるかもね」楓は鼻で笑った。「そんなことあるもんか!あいつは、俺の言うことには絶対逆らわない女だ。離婚なんて言われたら、腰が抜けて泣き出すような奴だぞ。俺の子どもを産めるのなら、むしろ喜ぶだろう」「それはどうかしら」楓のお母さんは皮肉気に言う。「その子が生まれれば、我が家の長男。そうなったら、そのガキを盾にして好き勝手求めてくるんじゃないの?離婚どころじゃなくなるわよ?」楓はタバコに火をつけ、煙をくゆらせて顔を隠した。悠璃に聞こえたのは、冷たい彼の声だけだった。「そうか?でもな、俺が指一本動かせば、あいつはどんなに強がっても、俺の前で跪いて行かないでって泣きついてくるさ」「信じない?なら賭けてみるか」その時、空に雷鳴が轟いた。眩い稲光が一瞬で
Read more
第8話
夜明け前、空の端がわずかに白み始めた頃。莉奈は、うつらうつらした意識の中で、病室の入口に立つ楓の姿を見た。彼女はすぐに何かに気づき、口の端をゆがめて、皮肉っぽく言った。「楓お兄ちゃん、すっかり騙されたんじゃないの?昨日の夜には来るって言ってたのに、結局今まで姿も見せやしない」莉奈は鼻で笑って続けた。「昨日あんなにあっさり約束したの、変だと思ったんだ。やっぱり、そこまで楓お兄ちゃんのこと愛してるわけじゃなかったみたいね?」楓は急にタバコの火をもみ消すと、ギロリと彼女を見た。徹夜で眠れていない目には赤い筋が浮かんでいて、その一瞥に莉奈は胸がざわつき、思わず目をそらした。楓の声には抑えきれない怒りが滲んでいた。「あいつ、何か事情があったんだ」莉奈は、黙っていた。楓のイライラはさらに募り、もう一度スマホを手に取る。時刻はすでに朝の七時。だが、悠璃に送ったメッセージは、どれも返事がなく、まるで石に沈んだようだった。彼は深く息を吸い、再び文字を打ち込む。【一晩も放っておいた。もう気は済んだだろ?】【お前、妊娠したからって俺を思い通りにできると思うなよ。篠宮家に子供を産みたい女なんていくらでもいる。俺はお前じゃなきゃダメってわけじゃないぞ】【俺の我慢にも程がある】彼はさらに電話までかけた。だが、相手の携帯は依然として誰も出なかった。「もういいでしょ?」と、莉奈は甘えるように彼をなだめる。「彼女、今お腹に赤ちゃんがいるから、そりゃ気も強くなるよ。怒らないで。ねぇ、お腹すいちゃった。何か買ってきてくれない?」楓はうんざりした様子で、「何が食べたいんだ?」と返す。「楓お兄ちゃんが買ってくるなら、何でも嬉しいよ」楓はスマホをしまって階段を降りる。まだ朝の七時だというのに、すでに屋台はにぎやかになり始めていた。彼はまず、入り口近くの肉まん屋が目に入った。少し迷った末、肉まんを買うことにした。悠璃が一番好きな朝ごはんは肉まんで、いくらでも食べられるっていつも言っていた。肉まんを持っていけば、さすがにもう怒りも収まるはずだと、彼は自分の怒りを押さえつけて思った。何年もこうしてきた。彼が少しでも優しい言葉をかければ、悠璃はすぐに笑顔を取り戻してくれた。これ以上どうやって下手に出ろっていうんだ。
Read more
第9話
楓の心は、まるでコントロールできなくなったかのように、激しく奈落へと落ちていった。胸の中に、どうしても拭いきれない違和感が残る。彼は昨夜のあの電話を思い出した――悠璃が、あんなにも静かに、おとなしい声で、何度も「いいよ」と返事をしていたことを。彼は、彼女が前より分別をわきまえたのだと思っていた。だが、今になって分かった。あれは、彼女の芝居だったのだ!まったく、本当に子どもを授かったからって、俺すら眼中にないってのか?まさか俺を手玉に取るなんて!楓は怒りで煮えくり返り、すぐさま悠璃に電話をかける。しかし、コール音が何度も響くだけで、冷たく無機質な応答なしのままだった。彼は、苛立ちで頭が爆発しそうになる。文字を打つ指さえも、震えていた。【お前、どんどん偉くなってきたな。俺をからかうなんて!】【いいだろう、よくやった!離婚したいんだな?今すぐそっちに行ってやる。離婚手続きに行こうじゃないか!】最後の文字を打ち終えた瞬間、彼はバンッと勢いよくスマホを車の窓ガラスに叩きつけた。目を閉じると、鼻先に漂うのは、吐き気がするほどの肉まんの匂い。クソ!自分で彼女のために、肉まんなんて買ってきたとは!ここ数日、彼女に甘くしすぎたせいで、彼女はすっかり図に乗ったのだろう。楓は窓を開け、肉まんを道路に放り捨てた。運転手はびっくりして、バックミラー越しに何度も彼を覗き込む。楓は歯を食いしばりながら言った。「帰れ!」運転手は慌ててアクセルを踏み込む。三十分後、楓は別荘に帰った。秘書がずっと待っていた。「頼んだものは?」楓は眉をひそめ、冷たい声で問う。「離婚届は、すでに準備できております……」秘書はおそるおそる言った。「社長、本当に離婚なさるんですか?奥さまは、つい先日妊娠がわかったばかりでは……」楓は冷たく笑い、目には嘲りの色が隠せなかった。「妊娠したからといって、調子に乗っているんだ。俺を操れるとでも思ったのか」彼は離婚届を受け取り、一語一語、皮肉と傲慢を込めて言う。「だが、この離婚届を目の前で叩きつけてやれば、さすがのあいつも動揺するはずだ。何年も俺を待ち続け、ようやく子どもを授かったのに、待っていたのが離婚届とは……誰だって、心が折れる。その時になれば、どれだけ彼女がプライド高くて
Read more
第10話
楓の全身に、怒りと焦燥が一気に爆発した。手にしていた離婚届を、ビリビリに破り捨てた。「くそっ!」彼は深く息を吸い込む。「あいつは、いったいどこに行ったんだ?」思い返せば、二人が結婚した当時、桜井家のみんなはこぞって反対し、結婚式にも誰一人来なかった。それどころか、悠璃はとっくに実家と絶縁状態になっている。だから、今さら桜井家には戻れないはずだ。しかも、楓と共にいたこれまでの年月、悠璃には特に親しい友人もいなかった……複雑な感情が、胸の奥から一気に湧き上がってくる。その瞬間、彼ははたと気づいた――自分が、いかに彼女のことを分かっていなかったかを。彼女がどこへ行くかすら、まったく思い浮かばないのだ……楓は、ふらりとソファに腰を下ろし、思考は絡まり合う糸のように混乱するばかりだった。そのとき、鋭いスマホの着信音が静寂を破った。楓は、ほとんど跳ね起きるようにしてスマホを手に取る――悠璃からの電話だと思ったのだ。だが、画面に映ったのは莉奈の名だった。この瞬間、楓の中に残ったのは、ただの苛立ちだけだった。彼はうんざりした声で電話に出る。「なんだ?」「楓お兄ちゃん、、朝ごはん買ってくるって言ってたのに、どこ行っちゃったの?こっちはお腹ぺこぺこだよ!まさかお姉さん、まだ許してくれないの?あれだけ下手に出たのに、まだ引っ張るつもり?」その言葉を聞いた瞬間、楓の胸の中の複雑な思いは一瞬で消し飛び、怒りだけが燃え上がった。彼は声を押し殺し、歯の隙間から絞り出すように六文字を吐いた。「あいつ、いない」「えー?家出か?なんだ、それなら心配いらないって!そんなの、あたしだって昔よくやったよ!」莉奈の口調は呑気そのものだった。「お金も持ってないんでしょ?しかも妊婦でしょ?そんな状態で、どこまで逃げられるのよ?二、三日食べなきゃ、すぐに泣いて帰ってくるに決まってるじゃん?それに、彼女あれだけ楓お兄ちゃんのこと好きでしょ?子どものことだってあるし、絶対戻ってくるって」楓は目を閉じ、額を押さえてズキズキとした痛みを感じる。「そうかな?」一時的に感情を抑え、楓は莉奈の言葉を黙って聞いた。頭の中には、これまで何度も自分にしがみついてきた悠璃の姿が浮かんでくる。そうだ。あいつが帰らないはずがない。妊娠しているのに、どこへ
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status