LOGIN篠宮悠璃(しのみや ゆうり)は、夜中に熱冷ましの薬を探しに階下へ降りると、別荘の玄関が開け放たれていることに気づいた。 ぼんやりして戸を閉めようとしたその瞬間、ふいに、唇と舌が絡み合う艶めいた音が響いた。 自動照明がパッと灯り、目の前にはあらわな体が、何の隠しもなく晒されていた。 三日前に一度見かけたあの女が、夫の篠宮楓(しのみや かえで)に玄関のドア板に押し付けられ、激しくキスされていた。 彼女の頬はほんのりと紅潮し、眩しいほどに艶やかで、身体を震わせながら、楓に問いかける。 「社長、こんな堂々と私を家に連れ込んで、奥さんに怒られないの?」 「怒る?」楓は冷笑を隠そうともせず、「夫婦交換ごっこするって約束したんだぞ。あいつがお前の旦那のところに行く勇気もないくせに、俺に文句があるとでも?」 月村莉奈(つきむら りな)は首を傾け、楓に白い耳たぶを甘噛みされながら、ふと目を開いた。そこで、悠璃と目が合った。 だが莉奈は怯えることもなく、むしろゾクゾクと興奮しているようだった。瞳の奥には、刺激を楽しむ光がちらついていた。 「へぇ?本当に平気なの?奥さんが他の男と寝ても?」 楓は肩をすくめ、冷たく笑った。「ゲームなんだし、気にするわけないだろ。もし嘘だったら、バチが当たるさ」
View More“Jadi, ini adalah calon istri keduamu, Rasya?” Ucapan itu keluar dari mulut ibu mertua Binar seolah tanpa beban.
“Iya, Ma. Namanya Nindi. Kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun, dan …” ada jeda yang diambil oleh Rasya sebelum melanjutkan. “Nindi sekarang sedang mengandung.”
“Benarkah?” Suara ibu mertua Binar terdengar penuh keterkejutan dan juga antusias. Tapi tak lama Perempuan itu melanjutkan, “Bagi Ibu, ini adalah kabar baik meskipun kalian melakukan hal yang salah. Jadi, berapa bulan kandungan Nindi?”
“Baru jalan satu bulan, Bu.” Begitu Nindi menjawab. Suaranya terdengar mendayu-dayu bak gadis lemah lembut dan keibuan.
“Bu, aku membutuhkan waktu untuk membicarakan ini kepada Binar. Ibu bantulah aku untuk bicara dengannya nanti.”
“Tentu saja Ibu akan melakukannya. Lagi pula, sudah dua tahun kalian menikah tapi tidak ada tanda-tanda dia hamil. Ibu bahkan nggak tahu apa yang salah dengannya. Dia mengaku baik-baik saja saat dicek ke dokter, tapi nyatanya dia mandul. Tentu saja kalau sudah begini, dia harus merelakan diduakan.”
Seperti bom meledak tepat di atas kepala Binar, perempuan itu tercengang di tempatnya berdiri ketika mendengar obrolan sang suami dan sang ibu mertua. Tak disangka, mereka yang selama dua tahun ini memperlakukannya penuh dengan cinta, kini menusuknya dari belakang dan menghancurkan perasaanya.
Mereka bahkan tampak tak berdosa saat membicarakan masalah perselingkuhan itu di belakang Binar. Seolah mereka sudah merencanakannya dengan matang kejahatan tersebut. Perhatian Binar kini beralih pada sosok perempuan asing yang duduk di samping sang suami. Perempuan itu tampak lebih muda darinya. Wajahnya manis dan tampak baik. Tapi, mana ada orang baik yang bersedia menjadi wanita kedua.
Binar bisa merasakan hatinya hancur dan berhamburan di bawah kakinya. Genggaman tangannya pada tali tasnya menguat seolah ingin menghancurkan benda itu. Binar tak pernah menyangka hari ini akan dihadapkan kenyataan yang menyakiti hatinya.
“Binar, kamu dari mana saja jam segini baru pulang?”
Setelah sampai di rumah dengan susah payah membawa kepingan patah hatinya, pertanyaan itu segera didapatkannya dari ibu mertuanya.
Bukan hanya itu, Rasya juga mendekat ke arahnya dengan wajah tampak khawatir. “Bi, aku menghubungimu dan nggak ada satu teleponku yang kamu jawab. Kamu baik-baik saja kan?”
Jika Binar tidak mendengar sendiri pembicaraan Rasya dan ibunya siang tadi, mungkin sampai saat ini dia akan mempercayai jika lelaki itu masih mencintainya. Lelaki itu tampaknya mahir dalam berlakon. Lihat saja wajahnya, tidak tampak bersalah sama sekali sudah berkhianat di belakang istrinya.
Binar tentu bukan orang bodoh. Meskipun dia sudah mengetahui semuanya, dia akan tetap pura-pura tidak mengetahui bejatnya sang suami.
“Mas, aku minta maaf. Sebenarnya aku tadi dari mal dan berbelanja. Tapi, aku ketemu teman SMA dan kami mengobrol banyak hal sampai lupa waktu.” Binar menjawab sambil memaksakan senyum di bibirnya.
“Seharusnya kamu mengabari orang rumah biar kami tidak khawatir.” Begitu kata ibu mertuanya.
Cih, pendusta!
“Iya, Bu. Maaf.” Binar menatap wajah ibunya dan menunjukkan penyesalannya.
Tapi dia juga mencari-cari ekspresi perempuan itu yang barangkali akan menunjukkan rasa muaknya kepada menantu yang dianggap gagal memberinya cucu tersebut. Namun perempuan itu justru tampak biasa saja. Dia masih berakting seolah Binar adalah menantu kesayangannya.
“Oh ya, Bu, aku tadi lihat baju yang sedang trend saat ini. Aku rasa itu cocok buat Ibu.” Binar menyerahkan satu paper bag untuk ibu mertuanya. “Bukalah.” Seolah tidak terjadi apa-apa, Binar masih memperlakukan perempuan itu seperti biasa.
Ibu Rasya kemudian tersenyum lebar karena mendapatkan hadiah dari menantunya, lagi. Ya, lagi. Karena selama ini, Binar sangat perhatian dengan keluarga Rasya dan tidak pernah berhenti memberinya barang-barang mahal.
“Wah, Binar, ini adalah baju yang Ibu mau. Beberapa hari yang lalu, Ibu melihat ini dan ngeri lihat harganya. Kamu serius memberikan ini kepada Ibu?”
Dasar munafik. Di belakang Binar dia berkhianat, tapi ketika Binar membelikannya sesuatu, dia menerima dengan kedua tangan terbuka dan senyum lebar.
“Untuk Ibu, tentu saja akan aku belikan. Ibu nggak boleh kalah sama teman-teman Ibu.”
“Kamu benar-benar membuat Ibu terharu. Terima kasih, ya.”
Binar hanya memberikan jawaban dengan sebuah senyuman kecil. Dia lantas pamit untuk naik ke lantai atas untuk beristirahat di kamarnya. Ada banyak hal bercokol di dalam kepalanya dan dia ingin memecahkan satu per satu. Terutama tentang Rasya yang sudah berani mengkhianati kepercayaannya.
Setengah jam berlalu. Binar selesai membersihkan tubuhnya dan naik ke atas kasur. Rasya sudah ada di sana dan tengah sibuk dengan ponselnya. Menoleh pada Binar, lalu sebuah senyum muncul di bibirnya.
“Bi, lain kali kalau kamu mau pergi setelah bekerja, kamu bilang ke aku ya. Biar kami nggak khawatir.”
Namun Binar tampak tidak seperti biasanya saat berbicara kepada Rasya. “Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi,” jawaban Binar tak acuh. Membuat Rasya sedikit mengernyit dengan perubahan yang terjadi pada sikap sang istri.
“Kamu kenapa? Nggak seperti biasanya. Capek ya?”
Binar menggeleng. Lantas dia kembali bersuara. “Aku baik-baik saja. Hanya saja, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Binar menatap suaminya dengan tatapan tegas yang selama ini tidak pernah ditunjukkan kepada Rasya. Membuat lelaki itu cukup terkejut. “Kita sudah menikah selama dua tahun. Sedangkan aku belum bisa memberikan anak kepada Mas. Apa Mas yakin baik-baik saja dengan itu?”
Binar bisa melihat suaminya salah tingkah. Sorot matanya mendadak sayu dan seketika menghindari tatapan Binar. “Kenapa kamu berbicara seperti itu, Bi? Aku sudah menikahimu dan sudah siap dengan kemungkinan apa pun yang terjadi. Dengan atau tanpa anak, aku rasa itu bukan masalah selama kita bisa bersama-sama untuk selamanya.”
“Mas sungguh nggak punya keinginan untuk menduakanku dan mendapatkan anak dari perempuan lain?”
“Bi, mana mungkin aku mengkhianatimu? Kamu adalah istri terbaik.”
Bedebah! Binar mengencangkan rahangnya untuk menahan kemarahan di dalam hatinya. Keinginannya untuk menghajar lelaki itu sampai mati berkobar kuat di dalam dirinya. Rasya terlalu mahir dalam berkelit. Binar mati-matian meredam kemarahannya agar tidak meledak. Sebisa mungkin dia mengikuti permainan suaminya.
“Begitukah? Aku akan menyimpan ucapan Mas kalau masalah anak tidak akan memengaruhi hubungan kita.”
“Kamu tidak perlu khawatir.”
Namun seolah semesta ingin Binar menguak kebohongan suaminya, pukul satu pagi, getaran ponsel Rasya terdengar dan Binar bisa melihat pop up chat bernama Tono.
Tono : Mas, sepertinya aku sudah mulai mual-mual terus. Bisa kamu datang? Aku juga mau ditemani.
Binar mengeratkan rahangnya. 'Kamu pikir aku sebodoh itu Mas? Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan.'
***
悠璃は息を切らしながら病院へ駆け込んだ。そこで目に飛び込んできたのは、足を吊ったままベッドに座る啓司の姿だった。その瞬間、張り詰めていた心が一気に緩んだ。「どうして戻ってきたんだ?」啓司は驚いた顔でそう訊ねた。安堵と同時に、抑えていた感情が一気に溢れ出し、悠璃の目からは、堰を切ったように涙が流れた。「泣くなって」啓司は慌てふためく。「ちょっとした事故さ。足を骨折しただけで、大したことないよ。僕のこと心配しなくていいよ」彼の焦った顔を見ていると、胸の奥が熱く満たされていく。この間に積もった想いは、もうどこにも隠しきれず、溢れ出して止まらなくなっていた。啓司の優しげな瞳を見つめながら、悠璃はついに言葉を口にした。「啓司、結婚しよう」その瞬間、彼女ははっきりと気づいた。もし相手が啓司なら、もう一度、同じ川に足を踏み込んでもいい。彼になら、絶対に裏切られないという自信があった。啓司は呆然と立ち尽くし、しばらくの沈黙のあと、ようやく口を開いた。「今、なんて言った?」「結婚しよう」悠璃はもう一度、はっきりと伝える。「前に言ってたでしょ?盛大な結婚式を挙げようって……」啓司は彼女を力いっぱい抱きしめた。まるで自分の体の一部にしてしまいそうなほど、強く、強く。心配も不安も、すべてその瞬間に霧散して消えた。気が抜けてようやく、悠璃は自分の体中が痛むことに気付く。あの時、思いっきり転んだからだろう。ふと、楓のぎこちない腕を思い出す。そして、自分を庇って楓も転んだことを。無意識に後ろを振り返る。楓の姿を探したかった。けれど、その思いは啓司のはしゃいだ声にかき消される。「ねえ、どんな式がいい?」もう、楓のことなんて考えていられなかった。いや、もしかしたら、これからの人生において、楓はもう二度と重要な存在にはならないのかもしれない。ほんの一瞬たりとも、彼に心を割く余裕はもうなかった。完全に、心の中から切り離したのだ。今はただ、啓司と一緒に、これからの結婚式について話し合うことに夢中だった。けれど、彼女は知らなかった。楓が、ずっと扉の向こうで、静かに彼女のことを見つめていたことを。別の男の腕の中で幸せそうに寄り添う彼女。あのプロポーズの時に一度だけ見せた、幸せに満ちた笑顔。信頼しきった表情で、「結婚
楓は、悠璃の言葉などまるで耳に入っていないかのように、彼女の後を追い続けた。ロマンティックなF国から、奔放なX国、そして自由なC国へ。この一ヶ月、悠璃は世界を駆け回り、思うままに旅を続けた。そして、楓は、一瞬たりとも彼女の後ろを離れず、ひたすら追い続けた。言葉を交わすことさえなかったのに、それでも楓は、異常なまでの執着心を見せ続けた。最初のうち、悠璃は彼の存在が煩わしかった。だが、次第に気にも留めなくなった。付いてきたければ勝手にすればいい。ただのボディガードみたいなものだと思えばいい。毎朝、ホテルのドアノブには、楓が用意した朝食と一輪の薔薇がそっと置かれていた。だが、悠璃はその朝食も花も、すべて通りすがりの人にあげてしまった。彼に、これっぽっちの希望すら残してやることはなかった。そして、新しい国に着くたび、啓司からの大きな花束が必ず届いた。彼女はその花束を丁寧に花瓶に生け、長く長く楽しんだ。だが、今回L国に来てみると、啓司からの花束は届かなかった。それでも楓の朝食は、変わらず毎朝やってきた。数日が経ち、突然L国で大雪が降り、交通は全て崩れた。不安が、悠璃の胸を締めつける。啓司からの連絡が途絶え、焦りに駆られた悠璃は、居ても立ってもいられなくなり、空港へ向かうことにした。しかし、外に出た途端、凍った地面に足を取られ、あわや転倒しかけた。楓がすぐさま駆け寄り、彼女を抱きとめた。「こんな大雪の中、どこ行くの?」「空港。啓司、何かあったかも……」「たかが一度、花束が届かなかっただけだろう?」楓は鼻で笑った。「ほかのことで忙しかったのかもな。もしかしたら、別の女に花を贈ってるんじゃないか?」だが、悠璃は静かに首を振り、きっぱりと首を振った。「彼は、そんな人じゃない」自分でも、どうしてこんなに信じているのか分からない。あの人なら、理由もなく約束を破ることなんて、絶対にしない。悠璃はコートをきつく抱きしめ、吹雪の中へと歩み出した。真っ白な雪が視界を覆い、彼女は、突如現れた大型車に気づくことができなかった。凍りついた道路で、ブレーキが効かない。気づいた時には、車がすでに目の前。体がすくんで動けない。もうダメだ、そう思った、そのとき――楓が飛び出し、全身の力で彼女を抱きか
悠璃の旅は、出だしから最悪だった。F国の空港を出てすぐ、持っていた現金をすべて盗まれてしまったのだ。すぐに警察に駆け込んだけれど、短期間でお金が戻ってくる見込みはないらしい。夜も更け、ATMも見つからず、彼女はどうしようもなく街をさまよう羽目になった。ここは国内ほど治安が良くない。しばらく歩いただけで、目つきの怪しい通行人に目をつけられた。慌てて道を逸れようとしたその瞬間、彼女の後を追う影、しかも手には刃物まで握られていた。もう、ここで人生が終わるのかもしれない。絶望しかけた、そのとき。誰かが突然前に飛び出して彼女を庇った。その人影を見て、悠璃は自分の目を疑った。しばらく呆然としたのち、彼がこちらに歩み寄るのを見て、ようやく楓だと確信した。「なんでここに?」悠璃は眉をひそめた。「お前のことが心配だったからだ」楓はそう答えた。「あいつは、こんなふうにお前を守ってんのか?旅行に出たのに、付き添いもしないとは」その口ぶりは、あからさまな皮肉が滲んでいた。「悠璃、そんな男と一生添い遂げるつもりか?」悠璃の胸に、うっすらと嫌悪感が広がり、無言で背を向けた。「ホテルに戻ろう。金、盗まれたんだろ?」楓はすぐに追いつき、強引に彼女の手を掴む。そんな細かいことまで知っているなんて――まさか、ずっと自分をつけていたの?ぞわりと寒気がした。悠璃はぎこちなく首を振った。「そんなの、いらないから」彼女は楓の手を見下ろし、一言一言かみしめるように言う。「また、私の手、傷つけるつもり?」楓は慌てて手を引っ込め、しどろもどろになる。「違う……ただ、心配だっただけだ」悠璃はもう振り返ることもなく、黙々と歩き出す。楓はひたすら付き従い、いくつもの路地を抜けた末、とうとう疲れ切った声で言った。「悠璃、少し落ち着いて、ちゃんと話そう。な?」まさか、自分が楓とまた同じテーブルにつき、向かい合って話す日が来るとは思わなかった。楓は、彼女の好物だったフラットホワイトを注文した。「好み、変わってないよな?」と、まるで機嫌を取るように。だが、悠璃の表情は変わらない。「何が言いたいの?早く言って」楓は温かいカップを撫で、深い瞳で彼女を見つめる。「あいつのプロポーズ、断ったんだろう?」低く、重い声で問いかける。「悠璃は昔から優し
あの夜、すべては悠璃の心を揺さぶる衝撃で幕を閉じた。彼女はようやく気づいたのだった。なぜあの日、自分が「取引」と軽く口にしただけで、浜市の相澤家の唯一の後継者――相澤啓司が、あれほどまでに無茶に付き合ってくれたのか。理由は簡単だった。二人の出会いは、決して初めてではなかったのだ。実は、ずっと昔から、彼らの物語には小さな伏線が張り巡らされていた。ただ、啓司が、自分をいつ、どこで知ったのか――どれだけ問い詰めても、彼は笑ってはぐらかすだけだった。「もし、僕たちが本当に一緒になる日が来たら、そのとき全部話すよ。でも、もしそうならなかったら、このことを悠璃の足かせにはしたくないんだ」こうして、ふたりの結婚の話は保留となった。そして、悠璃は、浜市を離れることを決めた。世界を旅するために。出発の日、空は見事な青空だった。長く一緒に過ごした別荘の使用人たちも、みんな彼女との別れを惜しみ、代表を立てて空港まで見送りに来てくれた。だが、最後まで啓司の姿は見えなかった。――しばらくは、もう二人会うこともない。それが分かっていたからこそ、彼女の胸にはどうしようもない寂しさと後悔が残った。「奥様、このところ会社が忙しいみたいで、ご主人様はおそらく来られないと思います……」付き添いの使用人が、そっと言った。空港のアナウンスが搭乗時刻を告げる。これ以上は待てないとわかった悠璃は、キャリーケースを引きながら、セキュリティゲートへと向かった。そのとき、耳に馴染んだあの声が聞こえ、胸の高鳴りを抑えきれなくなる。振り返れば、息を切らせて走ってくる啓司の姿があった。「渋滞で遅くなったんだ、ごめんな」「もう来ないかと思った」悠璃は唇をかすかに上げて微笑む。よかった。やっぱり、最後に会えた。けれど次の瞬間、啓司は深呼吸して、険しい顔で言った。「悠璃、篠宮がトラブルに巻き込まれたみたいだ」「……え?」思わず立ち止まる。「婚姻記録の異常に気づいたあと、彼はすぐ大燕市に戻って離婚手続きをしようとしたが、記録に使われた相手の女性は、何年も前から行方不明で、どうにもできなかった」啓司はため息をついて続けた。「それで、役所の人と揉めて、拘留されてしまったんだ」少しの沈黙の後、悠璃は尋ねる。「これ、莉奈が教えたの?」啓司は、わずかに口ごも
悠璃は妊娠していた。この子がやってきたのは、あまりにもタイミングが悪すぎた。手にした妊娠診断書を見つめながら、そっと自分のお腹に手を添える。この中に、小さな命が宿っている。お医者さんは厳しい表情で告げた。「篠宮さん、お体の状態はとても悪いです。今回も、かろうじて赤ちゃんを保てただけの状態です。これからはくれぐれも無理をしないでください。もしまた何かあれば、この子は……」悠璃はぼんやりとうなずいた。その日一日、彼女は病室のベッドで、何も考えられずにただ横たわっていた。夜、突然ドアが開き、楓が駆け込んできた。ベッドの脇に立ち止まり、抑えきれない感情が声に滲む。「
バンッ!楓はその場で激怒し、手の届く限りの物を床へと叩き落とした。「よく言うね!お前、俺を脅すつもりか?」悠璃は咳き込みながらも、顔に熱が上って赤みが差した。腹部の痛みがぶり返すが、それでも一歩も引かず、毅然とした目で答えた。「そう思っても構わない」「ハッ、ハッ、ハッ!」楓は冷笑しながら、「お前、そんなに気骨があるなら、さっさと出て行け!二度とこの家に戻ってくるな!」そう叫ぶなり、彼は彼女の腕を乱暴に掴んでベッドから引きずり下ろした。それでも悠璃は、一度も言い訳や弱音を口にしなかった。ふらつきながらも、玄関まで歩くと、ちょうど莉奈と鉢合わせた。彼女の無様
悠璃はその場に立ち尽くし、頭の中が真っ白になった。全身の細胞が燃え上がるような熱さ、意識は朦朧として、まるで夢の中にいるみたいだった。楓の口元が動いても、何一つ耳に入らない。ふいに彼が怒鳴りながら近づいてきた。「お前、俺の言うことが聞こえないのか!」茫然としたまま、悠璃は口を開いた。「何?」「莉奈に謝れって言ってるんだ!」楓は怒鳴り、彼女の腕を乱暴に引っ張った。力が入らない。楓に押され、机の角に激しくぶつかった。全身を走る鋭い痛み――悠璃は震えながら、顔から血の気が引いていく。「痛い……」声はかすれ、喉の奥から絞り出すようにしか出なかった。「楓、
外は、まるで天地が怒り狂ったかのような豪雨だった。マンションの排水も追いつかず、雨水はもうすぐで足首を飲み込みそうになっていた。悠璃はドアを開けた瞬間、激しい雨にズボンの裾をびしょ濡れにされて、ようやく傘を持ってきていないことに気づいた。慌てて二階に取りに戻ろうとしたとき、楓の部屋は、無遠慮に開け放たれていた。二人のじゃれ合う声は、何の遠慮もなく悠璃の耳に突き刺さる。「この賭け、どうやら莉奈の負けなあ」「つまらないね」莉奈は猫みたいに拗ねて、「こんな大雨なのに、文句一つ言わずに出ていくなんて!ほんと、楓お兄ちゃんが指示すれば何でもする。なんであんなに言いなりなの?つまら