Yuna
Sehari sebelum masuk kuliah, pacar onlineku bilang kalau dia kalah main game dengan temannya dan menjadikan diriku sebagai taruhannya.
Belum sempat aku merespon, dia sudah memasukkanku ke dalam sebuah grup obrolan game yang berisi seratus orang.
Pengumuman grup baru saja diperbarui.
[Selamat kepada Peter yang berhasil mendapatkan pacar 100 kg.]
Tak lama kemudian, foto masa SMAku langsung disebar di sana.
Di foto itu, aku memakai seragam sekolah yang agak besar dan terlihat sangat gemuk sampai leher pun tak terlihat.
Seketika, grup langsung heboh.
[Astaga, ini namanya bukan pacar, tapi babi yang menjelma jadi manusia.]
[Harus bisa terima kekalahan, Peter wajib menyelesaikan misi pasangan sama dia besok malam.]
Tak lama kemudian, seseorang membuka taruhan.
Mereka bertaruh apakah aku berani datang atau tidak besok malam.
Pacar onlineku memasang taruhan 20 juta, bertaruh aku tak bakal berani muncul.
[Kak Peter, jangan salahkan aku.]
[Kamu yang kocok sendiri dadu angka enam itu, dirimu sendiri yang memenangkannya.]
Orang yang dipanggil Peter itu tak berbicara sama sekali.
Malah primadona kampus di grup mahasiswa baru yang tiba-tiba menandaiku,
[Dek, besok malam kamu pasti datang, ‘kan?]
Melihat pesan yang terus bertambah di grup, aku hanya tersenyum.
Tak ada yang tahu.
Demi bertemu dengan pacar online, aku sudah berhasil menurunkan berat badan dari 100 kg menjadi 50 kg.
Tak ada yang tahu juga bahwa dalam dua bulan terakhir, jumlah orang yang meminta nomorku di jalan jauh lebih banyak daripada akumulasi selama 18 tahun hidupku.
Aku pun diam-diam memasang taruhan 6 juta.
Bertaruh bahwa aku akan datang tepat waktu.
Lalu, di tengah keriuhan orang-orang di grup, aku mengirim satu pesan,
[Harus siap menerima kekalahan.]