Garis halus antara lelucon dan bukti sering membuat aku terpaku melihat foto yang katanya menampilkan pocong atau kuntilanak. Pertama-tama aku selalu memikirkan asal-usul gambar itu: siapa yang mengirim, kapan diambil, dan adakah file mentah atau hanya screenshot dari layar. Ahli forensik biasanya mulai dari metadata — EXIF pada file foto yang asli bisa memberi tahu kamera, tanggal, bahkan lokasi jika geotag aktif. Kalau cuma ada gambar yang sudah di-repost berkali-kali, banyak informasi hilang dan itu mereduksi nilai pembuktian. Selain metadata, pola kebisingan sensor (PRNU) dan jejak kompresi JPEG sering diperiksa untuk melihat apakah foto itu berasal dari satu sumber sah atau hasil manipulasi.
Langkah teknis lain yang sering dipakai adalah melihat konsistensi cahaya dan bayangan. Bayangan yang memotong tubuh di arah yang tak konsisten, atau pencahayaan yang tak cocok dengan arah sumber cahaya di lingkungan, biasanya tanda manipulasi. Untuk kasus pocong, aku memperhatikan cara kain terikat dan bentuk lipatan yang alami; kain kafan asli menimbulkan lekukan dan gaya tertentu kalau ada tubuh di dalamnya. Sedangkan untuk yang disebut kuntilanak, rambut panjang yang menutup wajah biasanya kelihatan satu kesatuan dengan kepala kalau asli — tapi kalau rambut tampak ‘melayang’ tanpa gradien bayangan atau menutupi bagian yang harusnya menonjol, itu mencurigakan.
Selain bukti teknis dari gambar, verifikasi lapangan penting: apakah ada saksi lain, rekaman CCTV dari waktu yang sama, atau bukti fisik di lokasi? Forensik gambar tidak bekerja sendiri; ia menggabungkan analisis digital, pengetahuan anatomi, dan konteks sosial. Aku selalu berakhir pada hipotesis paling sederhana dulu — misalnya mainan, boneka, atau editing kasar — sampai bukti kuat menuntun ke arah lain. Pada akhirnya, bagian yang paling bikin aku penasaran bukan cuma apakah itu palsu, tapi kenapa orang bikin atau percaya foto semacam itu.