Kultivator Inti Semesta
Napasnya tersengal, dan darah terus menetes dari sudut bibirnya, menodai dagunya dengan semburan baru setiap kali ia berusaha menarik udara ke paru-parunya.
“Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk.” Jimingho memuntahkan darah dengan suapan besar. Cairan itu jatuh ke tanah dan segera menguap akibat panas yang masih tersisa di udara. Wajahnya sangat pucat, urat di lehernya menegang setiap kali ia memaksakan diri untuk tetap tegak. Meskipun begitu, sorot matanya belum padam, masih menunjukkan kesombongan luar biasa yang menolak tunduk pada kenyataan.
Hot Chapters