Sentuhan Panas Papa Mertua
ucap Arthur lirih dan itu bukan kalimat pertanyaan melainkan pernyataan.
Arthur kembali memposisikan diri.
Pria itu membimbing benda purbakalanya yang sudah siap untuk mengobrak abrik goa sempit milik Rose.
Diusapkannya benda purbakalanya pada permukaan lembah, pintu gerbang keindahan, pusat dari gairah, cinta dan kasih sayang berbalut nafsu itu berada saat ini.
Merasakan gesekan kecil di sana, tubuh Rose kembali gelisah dan gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha meresapi proses penyatuan mereka.