Sentuh Aku Lagi, Sayang!
“Aku tahu kamu sibuk.”
Dara memandang lurus ke depan, menatap lampu merah yang seakan tak kunjung hijau. “Tapi mungkin ... mungkin yang perlu ‘diperbaiki’ bukan cuma aku, Mas. Mungkin masalahnya bukan cuma di ranjang. Mungkin masalahnya ada di sini,” ujarnya, menunjuk ke arah hati mereka berdua, “di ruang tamu kita yang sepi, di meja makan yang selalu diisi oleh kita berdua tapi rasanya kayak sendiri-sendiri.”
Dara akhirnya mengatakannya. Keluhan yang selama ini terpendam, rasa kesepian yang dia pendam di balik senyumannya selama pernikahan mereka.