Rayuan Maut Para Tetanggaku
"Iya Nad, maaf ya."
Panggilan berakhir. Aku terdiam sejenak menatap aspal. Aku berfikir, mungkin sebaiknya aku pindah apartemen karena selama tinggal di apartemen, banyak masalah yang terjadi. Banyak rayuan dari para tetanggaku, kebetulan di lantai unitku penghuninya perempuan. Masalahnya mereka kebanyakan gadis dan janda, bukan hanya itu yang sudah bersuami juga masih tetap gatal. Tapi apartemen itu sudah yang paling murah, apartemen lain harganya lebih mahal.
Aku sampai di kediaman Pak Adit. Gerbang besar itu terbuka setelah asisten rumah tangganya mengenaliku. Mobil mewah Pak Adrian, sebuah sedan hitam mengkilap sudah terparkir gagah di sana.