Kata-katanya sering bikin aku tersenyum kecut.
Kalimat itu, 'cinta itu sederhana yang rumit itu kamu', di kepalaku seperti potret hitam-putih yang tiba-tiba diberi warna. Aku melihat cinta sebagai inti yang murni: keinginan untuk dekat, memberi, dan merasa aman. Sederhana di level itu — tindakan kecil, perhatian sehari-hari, pelukan di saat penat. Tapi pembaca yang pernah patah hati akan menangkap bagian 'rumit itu kamu' sebagai pengakuan bahwa orang bukanlah konsep; kita membawa sejarah, ketakutan, kebiasaan aneh, dan ekspektasi yang kadang bertabrakan dengan kesederhanaan itu.
Dalam imajinasiku, pembaca membaca baris ini dan otomatis memproyeksikan seseorang — mantan, teman, atau bayangan diri sendiri. Mereka bisa tersenyum sinis, mengenang adegan manis dari 'Your Lie in April' atau menangis pelan karena dialog yang terlalu mirip dengan rumah mereka sendiri. Jadi interpretasiku: kalimat ini adalah undangan untuk empati. Sederhana? Iya, sebagai prinsip. Rumit? Pasti, karena manusia membawa cerita.
Di akhir, aku merasa baris seperti ini menguatkan kita buat menerima kontradiksi. Kita nggak harus memilih antara cinta yang tulus dan pasangan yang kompleks; kita bisa mencintai sambil terus belajar bagaimana berkomunikasi dan memberi ruang. Itu yang kusimpan ketika membaca frasa ini—sebuah pengingat lembut bahwa cinta bisa candid dan berantakan, sekaligus sangat mungkin untuk bertahan apabila kita sabar dan blak-blakan dalam niat. Aku pun masih belajar, tapi kalimat itu selalu membuatku menghela napas lega dan siap mencoba lagi.