Terjerat Pesona Papa Temanku
“Justru di sini, Om. Biar Om juga makan. Biar kita rayain.”
Kata rayain terdengar sederhana, tapi maknanya berat. Itu bukan perayaan biasa—melainkan tanda bahwa mereka memilih berhenti saling menyakiti dan mulai berdamai dengan keadaan.
Yara menatap Arunika, matanya kembali berkaca-kaca. “Run, makasih.”
“Udah,” Arunika melirik sekilas sambil tetap menekan layar ponsel. “Nanti kamu nangis lagi, aku ikut mewek, Kaivan bingung, terus Papa makin drop.”