Sentuh Aku Lagi, Sayang!
Suara erangan dan usaha untuk muntah memenuhi ruangan kecil itu.
Tanpa banyak bicara, Rendra membuka keran wastafel, membasahi handuk kecil dengan air dingin. Dia berlutut di samping Riani, menunggu gelombang mualnya mereda sedikit. Saat Riani terhuyung ke belakang, bersandar pada dinding dengan wajah pucat dan berkeringat, Rendra dengan lembut mengusap keningnya dengan handuk dingin itu.