Sentuh Aku Lagi, Sayang!
“Cukup. Aku tahu ... kamu sangat ahli.”
Pujiannya datar, nyaris seperti seseorang yang sedang membaca teks. Riani menyebutnya Ahli. Bukan hebat atau yang terbaik. Kata itu mengakui keahlian Rendra, mungkin sebagai seorang yang berpengalaman atau sekadar secara teknis, tetapi menghilangkan unsur emosi sama sekali. Itu menusuk, tetapi juga jujur.
Gerakan tubuh Rendra tidak melambat, justru semakin dalam, seolah ingin menghapus kata-kata itu dengan aksi. “Selama ini ... kamu tidak ingin kusentuh. Selama ini kamu menolak.”