Istri Nakal Mas Petani
Sully menatap lemari, ranjang berukuran empat kaki, meja rias, meja kerja kayu dengan kursi nyaman yang bantalannya terlihat empuk dengan seperangkat komputer di atasnya, juga tak lupa sebuah microphone dan headset wireless yang bagian atasnya berbentuk telinga kucing.
“Semuanya pasti rindu majikan kalian, kan?” Sully mendekati perangkat komputer dan mengelus-elus bagian atasnya. “Me too, Beb. Aku juga kangen kalian. Mulai saat ini, sebelum uang bantuan sosial dari Pak Anwar bisa dicairkan, aku enggak akan meninggalkan kamar ini. Percayalah … mari berjuang sama-sama. Kalian semua anak bunda!” Sully terkekeh-kekeh sendirian sambil mengecup microphone dan headset-nya.