BEHIND
Aku mengangguk, sedangkan Bibi May menggeleng sembari berdecak.
Terpaksa, pagi itu meski perut masih terasa belum terisi, aku tetap berangkat ke sekolah. Dengan langkah gontai, kususul beberapa kawan yang telah berjalan jauh di depan sana. Di sekolah, jangankan untuk berpikir. Bahkan untuk mendengar pun rasanya sudah terlalu susah untuk berkonsentrasi.
Saat jam makan siang tiba, dengan langkah tergesa kuderap langkah cepat menuju kantin sekolah. Berusaha mengantre dengan tertib agar segera mendapat seporsi makanan.
Hot Chapters