PENDEKAR CAMBUK HALILINTAR
Bantal-bantal kepala dan bantal guling dari kapuk tersusun rapi di rak yang dibuat khusus untuk itu, dan tinggal diambil.
Baru kali ini Diajeng Sekar Laras dan buah hatinya merasakan hidup seperti kehidupan masyarakat desa pada umumnya. Makan, tidur, berpakaian, dan lain-lain apa adanya dan tak ada yang berlebih-lebihan. Semua serba sederhana. Tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan gaya hidup mereka dalam kemewahan istana yang penuh dengan para pelayan. Namun mungkin karena kepenatan yang sangat, dia dan Raden Anom pun dalam waktu tak lama sudah terlelap, melupakan segala kedukaan yang sangat menyesakkan dadanya.