Menantu yang Baik
Aku menundukkan kepalaku, menjepit bokongku erat-erat dan menegangkan seluruh otot tubuhku untuk melawan rasa kebas dan nyeri hebat yang menusuk jauh ke dalam tulang-tulangku.
Aku khawatir akan mengeluarkan erangan tak tahu malu.
Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus berbalik?
Namun, tangan besar ayah mertua meluncur di balik bokongku. Bukankah terlalu memalukan kalau kami saling mengenali saat ini?
Haruskah aku berpura-pura tidak tahu?
Namun, tujuan kami sama, jadi tak peduli turun lebih awal atau duduk beberapa halte kemudian, bakal bertemu satu sama lain.