Gairah Liar Perselingkuhan
Lalu dia mencium bibirku, mentransfer rasa manis dari kedua wanita ini padaku.
“Sekarang, Indra,” bisik Isvara, matanya menatapku penuh harap, penuh perintah. “Tunjukkan pada kami betapa kau menginginkan kami.”
Dorongan terakhirku terasa seperti ledakan. Rahim Tanika berkonstraksi hebat di sekeliling kejantananku yang besar, memeras setiap tetes kenikmatan. Aku ambruk ke depan, memeluk tubuh Tanika yang lemas, sementara Isvara memeluk kami berdua dari belakang. Gelombang panas menyebar dari pangkal pahaku, membanjiri rahim Tanika dengan benihku yang kental dan hangat. Sebuah torrent cairan kehidupan yang tumpah ruah, memenuhi ruang paling intim dalam dirinya. Aku merasakan kontraksi kuat di