Waktu pertama aku sadar tentang kata 'biseksual' itu agak campur aduk rasanya — lega karena ada nama untuk apa yang kurasakan, tapi juga was-was karena lingkungan di sini tidak selalu ramah. Di lingkunganku yang kota, pergaulan anak muda cukup terbuka; teman-teman sekampus dan komunitas online sering membahas identitas dengan lebih santai. Namun realitanya, penerimaan di Indonesia sangat berlapis: di satu sisi ada generasi muda yang lebih paham dan mendukung, tapi di sisi lain masih banyak stereotip dan pelecehan verbal—misalnya asumsi bahwa biseksual cuma ‘lagi fase’ atau selalu promiscu.
Aku merasakan sendiri pentingnya representasi yang nyata. Ketika lihat tokoh dalam 'Heartstopper' atau cerita-cerita yang menampilkan spektrum seksual secara lembut, itu bikin lega karena merasa nggak sendirian. Media lokal belum banyak memberi ruang, sehingga banyak biseksual memilih ruang aman di internet atau komunitas kecil. Selain itu, faktor keluarga dan agama sering jadi penentu: ada keluarga yang menerima setelah proses panjang, ada juga yang menolak karena takut stigma.
Jujur, aku optimis tapi realistis. Perubahan datang pelan: pendidikan seksual yang lebih baik, dialog di komunitas, dan lebih banyak cerita positif bisa mengikis mitos. Aku sendiri berusaha jadi pendengar yang sabar buat teman yang masih bingung, karena kadang simpel mendengar tanpa menilai itu sudah sangat berarti.