Menikahi Musuh Bebuyutan
Di satu sisi meja panjang dari marmer Italia berdiri Jocelyn Hartfeld—dewasa, memesona, namun masih memiliki sorot mata dingin yang sama seperti gadis kecil yang dulu membalas semua hinaan dengan ketenangan menusuk.
Di sisi lain berdiri Sebastian Grey. Jas hitam sempurna, dasi perak, dan pandangan yang membuat suhu ruangan turun lima derajat. Dia datang terlambat sepuluh menit tanpa permintaan maaf, menyimpan ponsel di sakunya seperti pertemuan ini tak lebih penting dari jadwal makan siangnya.
“Sudah lama,” ucap Sebastian, akhirnya bersuara.