Dosen Dudaku
Lelaki itu melotot, lalu tangannya membekap mulutku.
“Stt … gak boleh berisik, Andin. Nanti diomelin satpam rumah sakit loh,” katanya menakutiku, seperti sedang menakuti anak SD. Kegerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, agar terlepas dari tangannya, tetapi tidak bisa. “Kalau kamu masih berontak juga, saya cium lagi sampai bibir kamu habis. Tersisa gigi dan lidah saja, mau?” aku menggeleng ketakutan. Lelaki ini ternyata bukan hanya dosen dan lelaki menyebalkan, tetapi juga sepertinya satu perguruan dengan Sumanto.
Chapitres populaires