Bosku, Mantanku!
Jadi, bukan salahku kalau aku secara tidak sengaja mengetahui informasi pribadinya seperti ini.
“Udah dulu, ya, Ma. Esa lagi nyetir. Kita lanjutin obrolan ini nanti.” Pak Bos terlihat mematikan teleponnya secara sepihak. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang panjang dan terdengar lelah.
“Bapak mau dijodohin?” Aku refleks menutup mulut sialanku dengan tangan. SIAL! Kenapa, sih, mulut sialanku ini suka sekali menceplos sembarangan.