AKU BUKAN SEORANG PELACUR
Aku mencoba menerka dengan menyipitkan mataku, menyelidikinya, namun, sebuah jawab tiba-tiba berhadir dari bilah bibirnya.
“Aku punya kuncinya.”
Gantungan berbentuk yang sama dengan gambar tato di lengannya terangkat di udara. Dia berjalan menghampiriku, sementara aku langsung menutup rapat bibirku. Menaikkan kaki kananku ke belakang, ke salah satu lantai tangga yang beberapa belas senti lebih tinggi dari kaki kiriku. Mataku terjaga, dan harus begitu. Tidak ingin terkecoh dengan pergerakan yang dia buat walau itu cuma sedikit.