Rumah Ramaria
Iklan sialan, pikirku.
Tiba-tiba juga Maria keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dilingkarkan di dadanya sampai ke bagian pahanya. Ia berjalan mendekat ke arahku dan duduk di sana. Digigit bibir bawahnya dengan lembut, menggodaku. Mataku tak berkedip. Aku sedang menyaksikan Maria menggodaku lewat sambungan video kami. Aku diam mematung dengan tatapan terkejut sekaligus terpana. Lalu ia berkata dengan nada mesra. “Menurut kamu, kapan sih waktu yang tepat di antara dua orang yang saling suka, untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius?” Ia menggigit bibir bawahnya lagi sambil menatapku mesra.
Aku menelan ludah, berkata dengan suara serak, “Maria, kamu mau jadi pacarku?”
Hot Chapters