Jiwa Kekasihku di Tubuh Suamiku
Suaranya rendah, tapi terukur untuk memastikan Clarissa mendengarnya.
“Clarissa,” ucapnya, “ada satu hal yang harus kulakukan sebelum kita melangkah maju.”
Dahi Clarissa berkerut tipis. Tapi masih menghadirkan senyum. “Apa itu, Brian?”
Brian tidak langsung menjawab. Ia melepaskan jam tangan dari pergelangan kirinya. Jam itu berkilau di bawah cahaya ballroom, jarumnya bergerak dengan presisi. Jemarinya menyentuh permukaan logam itu sejenak, seperti memberi salam perpisahan, sebelum ia meletakkannya di dalam kotak beludru yang sudah disiapkan. Gerakannya tenang, tidak tergesa, tapi setiap detiknya terasa panjang.
Hot Chapters