Kubalas Kekejaman Mertua Dan Suami
“Assalamualaikum, Mas?“ jawabku setelah mengetahui siapa penelepon itu.
“Waalaikumsalam, Dek. Mas mau tanya? Mbaknya sudah datang?“ jawab Mas Pram dari seberang telepon.
“Mbak?“ Keningku berkerut sembari menebak-nebak.
Mungkinkah perempuan tadi yang dimaksud? Kakak siapa? Dia kan anak tunggal.
“Iya, Mbak. Calon pembantu kita, Sayang.“
Aku terhenyak mendengar penuturannya. Kenapa cepat sekali Mas Pram mendapatkan pembantu, terus kenapa juga mencari yang seperti itu, berpakain seksi. Tak sadarkah di rumah ini ada dua Lelaki yang bukan mahramnya?
“Mas, kenapa semua selalu bertindak sendiri? Gak ada omongan sama sekali ke Aku sih, Mas?“ protesku tidak terima.
Bab Populer