BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR
Sedari tadi, aku sebenarnya sudah berdiri santai sambil bersandar di batang pohon pinus besar, menonton pertunjukan keputusasaan Parangan Bela ini dengan perasaan campur aduk.
"Aduh, aduh... Parangan Bela," ujarku sambil melangkah keluar dari bayang-bayang pohon, menatapnya dengan ekspresi tenang. "Masa depanmu masih panjang, kenapa sudah terburu-buru ingin lahir kembali? Bagaimana kalau di kehidupan selanjutnya kamu malah lahir jadi seekor ulat bulu?"
Ribak Sinambela tersentak hebat. Ia tidak menyangka lawan yang paling ia benci sudah berdiri tepat di belakangnya tanpa terdeteksi.