Malam-malam sebelum tidur di rumah kami selalu terasa seperti kurasi kecil—aku suka memilih cerita yang pas seperti memilih lagu untuk suasana hati. Aku mulai dengan memikirkan mood anak: apakah dia butuh yang menenangkan, lucu, atau petualangan yang bikin mimpi? Untuk balita, aku pilih cerita pendek dengan pengulangan dan ritme, karena itu menenangkan dan mudah diikuti. Untuk anak yang lebih besar, aku senang pakai cerita bersambung yang bisa kita lanjutkan beberapa malam, jadi ada antisipasi tanpa harus terpaku pada satu malam panjang.
Praktiknya, aku cek dulu keseharian mereka: kalau hari itu mereka capek atau cemas, aku ambil cerita ringan dan familiar—misalnya versi sederhana dari 'Si Kancil' atau dongeng tradisional. Kalau mereka bersemangat, aku beri potongan dari cerita yang lebih kompleks dengan tokoh berulang. Aku juga libatkan anak dalam memilih: kadang aku minta dia pilih antara dua judul, dan itu memberikan rasa kontrol yang menenangkan. Teknik suaraku juga berubah: aku pelan saat menutup hari, dan lebih bersemangat saat adegan seru, jadi narasi terasa hidup tanpa bikin mereka terjaga.
Di luar itu, aku tak segan memendekkan atau memodifikasi kalimat agar sesuai umur, dan selalu siap skip bagian yang terlalu menakutkan. Intinya, pemilihan cerita itu campuran antara intuisi, observasi kecil dari hari itu, dan sedikit eksperimen—kadang pilihan yang tak terduga malah jadi favorit baru. Aku selalu akhiri dengan satu kalimat pengikat yang hangat supaya tidur terasa aman dan penuh imajinasi.