Ada satu cerita pendek yang sering kuceritakan ketika lampu mulai redup dan napas kita berirama pelan.
Aku akan mulai dengan mengajakmu membayangkan sebuah taman kecil di ujung dunia, tempat semua kata-kata manis tumbuh seperti bunga. Dulu, di taman itu, aku menulis satu surat setiap hari: surat untuk hal-hal kecil yang membuatku tersenyum—cara kamu mengucek mata waktu bangun, tawa yang sering kau tahan, atau caramu menaruh mug kopi di meja. Surat-surat itu kupetik seperti bunga dan kubawa ke sebuah sangkar kecil yang terbuat dari harapan. Malam demi malam aku membuka sangkar itu dan membacakan satu surat untuk bintang-bintang, sampai bintang-bintang memilih satu dan menjatuhkannya sebagai cahaya di pelupuk matamu.
Ketika kubacakan cerita ini untukmu, aku melambatkan suara pada adegan yang lembut dan menambahkan jeda yang panjang pada kata 'terima kasih' yang tak terucap. Kadang aku mengganti nama tempat dengan kenangan kita—misal, taman berubah jadi sofa tempat kita berbagi selimut. Tujuannya bukan agar cerita ini rumit, melainkan agar tiap kalimat terasa seperti gosokan lembut di kepala, membuat napasmu turun dan dunia di luar mengecil. Aku suka menutup cerita ini dengan berbisik, bukan berteriak, karena bisikan adalah kunci agar mimpi bisa masuk lebih dulu. Itu cara sederhana yang selalu berhasil membuat kita tertidur sambil tersenyum.