Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi lampion merah, dua pasang tangan yang dulu saling mencakar akhirnya bersatu dalam ikatan sutra. Aku menyaksikan adegan itu dari balik tirai kamar pengantin, masih tidak percaya bahwa pertempuran berdarah selama sepuluh tahun berakhir dengan pesta pernikahan. Ternyata, racun yang dia masukkan ke dalam tehku lima tahun lalu bukan pembunuh, melainkan ramuan pengikat takdir.
Sekarang, setiap kali memandang cincin nikah yang melingkar di jari manisnya, aku tersenyum ingat bagaimana kita saling mengunci pedang lebih sering daripada saling menggenggam tangan. Malam pertama kami diisi dengan tawa menceritakan semua rencana pembunuhan yang gagal, dan betapa bodohnya kita menyadari cinta tumbuh di sela-sela pertempuran. Musuh bebuyutanku sekarang tidur di pelukanku dengan wajah lebih tenang daripada saat dia mengincar kepalaku.