Suami Perkasa
“Aku benar-benar cinta, dulu.”
Carlos menatapnya tak berkedip. “Tapi?”
Sukma mengangguk pelan. “Tapi posisinya salah. Waktunya pun salah. Cinta kita… cinta yang datang di saat yang tidak tepat.”
Ia menunduk sejenak, jemarinya menggulir pelan gagang cangkir kopi yang nyaris kosong. “Aku ini tipe perempuan yang mudah jatuh cinta, Carlos. Aku tidak pernah menyangkal itu. Aku bisa mencintai seseorang karena caranya tertawa, atau karena matanya yang tenang, atau bahkan karena ia pernah menyembuhkan luka yang tak disadari. Tapi bukan berarti setiap cinta itu harus dimiliki. Kadang, cinta itu hanya datang untuk mengajarkan sesuatu.”