Alverez
“Kini, darah yang tumpah tak bisa dicuci. Dan satu-satunya warisan Alverez yang tersisa adalah… kebohongan.”
Sore itu, Clara duduk di bangku taman belakang rumah Andre Wijaya. Luka di pipinya belum sembuh. Jiwanya pun belum. Namun, ia tak lagi sembunyi. Tak lagi takut. Ia tahu, semua ini bukan lagi hanya tentangnya. Ini tentang semua orang yang telah dikorbankan oleh nama yang tak pernah tampil ke muka.
Adrian menghampirinya dengan map cokelat di tangan. “Kau harus baca ini,” ujarnya sambil menyerahkan file itu.