Sekretaris Sexy Milik CEO Dingin
Dan justru itulah yang membuat dadanya terasa sesak.
Ia membuka laptop lagi, bukan untuk bekerja, melainkan untuk menulis satu kalimat baru—bukan untuk editor, bukan untuk pembaca, tapi untuk dirinya sendiri.
“Ada perasaan yang tidak bisa disangkal hanya karena belum diberi nama.”
Nadira berhenti mengetik. Membaca ulang kalimat itu. Lalu menutup laptop perlahan.
Malam semakin larut. Hujan mereda, menyisakan bau tanah basah yang masuk lewat celah jendela. Nadira akhirnya berbaring, menatap langit-langit yang sama seperti pagi tadi.