Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Salahkah Aku Mencintaimu

Salahkah Aku Mencintaimu

ujarnya manja. "Siap Bidadariku," jawab Arjun bersemangat. "Sebutkan surrah apa yang ingin kau hafalkan?" tanya Arjun. "Nggak tahu Om." "Gimana kalau surrah An-Nas, surrah Al Ikhlas dan Surrah Al Kautsar?" tawar Arjun. "Iya boleh," sahut Nayna.
1012.2K viewsOngoingAdded to Library 316 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Tersandung Cinta Tuan Muda

Tersandung Cinta Tuan Muda

Ia menatap foto lama mereka berdua yang sudah agak pudar, dan membuka buku harian Naira yang masih disimpannya. Ia membaca puisi yang pernah ditulis Naira: > "Aku tak ingin jadi perempuan yang menunggu, Tapi aku juga tak sanggup jadi perempuan yang dilupakan." Adrian mengusap wajahnya. “Aku tidak akan memaksa,” katanya lirih. “Tapi aku juga tidak akan berhenti membuktikan… bahwa cinta yang tersisa ini layak diperjuangkan.”
1.1K viewsCompletedAdded to Library 39 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Istri Sederhana Sang Duda

Istri Sederhana Sang Duda

Rumah Bu Amina berada di pinggir kota, sehingga akan banyak persawahan yang terbentang dengan begitu indah. "Kamu ingat, Lis? Saat kau pertama kali keluar dari panti, banyak pengurus panti yang merasakan kehilangan, kau adalah penyemangat kami semua, kau adalah kebahagiaan kami semua, jadi apapun yang terjadi tetaplah menjadi kekuatan kami, " ucap Bu Amina.
101.9K viewsOn holdAdded to Library 47 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Wanita yang Mencintai Suamiku

Wanita yang Mencintai Suamiku

Bab 67. Terciduk "Mas, abis ini kamu langsung pulang?" Nadin bertanya dengan nada tak suka. Perempuan itu sangat senang berada di dekat Abyan. Selain karena dia lebih tampan dari suaminya dulu, Abyan unggul dari segala-galanya. Biasanya mereka pergi memakai motor, sekarang terlindung dari paparan sinar matahari dan polusi. Nadin merasa jauh lebih bahagia. Dia tidak peduli tentang tanggapan orang-orang yang mengatainya janda genit.
1016.7K viewsCompletedAdded to Library 383 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Gadis Tanpa  Ingatan

Gadis Tanpa Ingatan

“Warisan tak pernah salah memilih jalannya. Masuklah. Kita tak punya banyak waktu.” Di dalam pondok itu, cahaya lentera menyinari dinding kayu penuh peta-peta tua dan catatan tulisan tangan yang tampaknya sudah puluhan tahun. Ada simbol-simbol yang Amara mulai kenali. Dan satu foto tua tergantung di atas tungku api—foto hitam putih empat orang muda, salah satunya… adalah Nadine. “Selamat datang di sisi terakhir kebenaran,” kata Salim sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir.
101.1K viewsOngoingAdded to Library 34 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Menunggu Masa Idah

Menunggu Masa Idah

tanya Laila pada adik iparnya. "Cuti, Mbak. Mau liburan di rumah dulu," jawab perempuan berusia 22 tahun itu dengan kalem. Gadis muda berjilbab biru dengan motif bunga-bunga itu bekerja sebagai teller di salah satu bank syariah yang ada di kota ini. "Ini ada puding buat Mbak Laila. Tadi ibu yang buat, aku bantu mencicipi saja." Amy tersenyum lebar, hingga deretan giginya yang tersusun rapi terlihat dengan jelas. Laila tersenyum dan menerima paper bag yang diangsurkan Amy. "Terima kasih ya, Bu, Amy," katanya. "Ayo masuk."
103.2K viewsOngoingAdded to Library 74 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Senja yang Ternoda

Senja yang Ternoda

tegas Tiara. Nanta pun tak berkata lagi. Percuma menyadarkan seseorang yang sedang kasmaran. Dia berdiri memandang mentari yang sebentar lagi akan benar benar meninggalkan hari. 'Senja memang indah, seindah orang yang menyukainya' batin Nanta. Saat matahari benar-benar telah tenggelam, Nanta dan Tiara pulang. Sepanjang perjalanan mereka tak saling bicara, hanya bunyi langkah kaki yang menemani.
3.0K viewsOngoingAdded to Library 101 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Nadira

Nadira

secepat itu aura dingin di tubuh Nadira memudar, matanya berkilat penuh kesedihan, dia sudah melepas cekalan tangannya pada lengan Amira, berganti dia menatap Amira dan adik kelasnya itu. "Kakak enggak mau ngerasain apa yang dia rasain gitu?" tanya Nadira berbinar, tangannya dengan pasti mengambil kuah milik si adik kelas yang tinggal setengah, menatap ke arah Amira yang membeku, kelu saat Nadira kembali menatapnya tajam. "Nih kak ... gimana rasanya?" Nadira bertepuk tangan, menatap penuh binar kagum ke arah Amira yang baru saja dia tumpahkan kuah mie tersebut.
3.5K viewsOngoingAdded to Library 121 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang

Malam harinya, kami saling berbagi makanan khas daerah masing-masing sambil membicarakan impian dari penjuru negeri. "Kamu ke sini untuk kuliah?" Gadis yang tidur di ranjang seberangku bernama Dinda. Dia berasal dari provinsi lain dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian CPNS. "Wah, masuk universitas terbaik Adiwangsa, hebat sekali!" Aku hanya tersenyum tipis tanpa banyak bicara. Malam itu, aku tidur dengan sangat pulas. Tidak ada omelan Ibu, tidak ada tangis buaya Ajeng, dan tidak ada lagi kalimat jangan membuat keributan dari Rangga.
2.2K viewsCompletedAdded to Library 58 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
MENANTU TANPA RESTU

MENANTU TANPA RESTU

Aku tidak boleh kalah. Malam itu, setelah semua pekerjaan rumah selesai, Nadin duduk di kamar dengan buku catatannya. Ia menuliskan kalimat baru: "Aku akan buktikan bahwa aku pantas. Aku tidak akan membiarkan kata-kata mereka membunuhku. Aku bukan sekadar bidan honorer. Aku punya arti."
594 viewsOngoingAdded to Library 19 Times as puisi nadin amizah
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status