Dia Kehilangan Segalanya
Darah segar terus menetes dari kakiku, menuruni betisku.
Setiap langkah meninggalkan jejak merah di lantai, bahkan ada potongan kecil daging yang ikut terbawa.
Sampai aku berdiri tepat di depannya dan dengan dingin bertanya,
“Bahkan ayahnya sendiri nggak mengakuinya!”
“Lalu, siapa lagi yang menantikan kelahirannya?”
Ujarku padanya.
Bibir tipis Timo mengatup rapat membentuk garis lurus, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa takut dan gelisah yang menggenang di pelupuknya.