Antara Ambisi dan Cinta
Layar ponsel di tangannya menyala redup, menyorot wajahnya yang penuh dilema.
Di satu sisi, ada Cantika yang sedang berusaha—meski lewat wajah dingin dan sikap ketus. Perempuan yang ia nikahi, ibu dari anak-anaknya.
Di sisi lain, ada Elara—lembut, hangat, hadir tanpa tuntutan, hanya dengan pesan sederhana tapi mampu menenangkan luka di egonya.
Ezra mengusap wajahnya kasar, lalu menatap langit-langit kamar. “Aku gila … aku enggak bisa terus kayak gini. Tapi … aku juga enggak sanggup kehilangan salah satunya.”