Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK
“Ya, Sayang! Mama gak akan nangis lagi. Maaf, ya! Mama selalui curhat sama kamu! Mama tak punya teman untuk berbagi, Sayang! Mama hanya memilikimu. Yuk, kita buatkan kopi Papa! Kamu kangen, kan? Kangen sama Papa, ya, kan? Yuk, siapa tahu dengan ini Papa luluh dan mau nemanin kita bobok malam ini!”
Dinda menyeduh kopi, tersenyum penuh harap, lalu mengantarnya ke ruang kerja sang suami.
“Minum kopinya, Mas!” Dinda meletakkan gelas di atas meja.
Tak ada sahutan, pun ucapan terima kasih. Dinda menunggu. Berdiri dengan sabar di sisi meja.