Jejak Dusta di Rumah Kita
“Sekarang, semua sudah berlalu. Jujur saja, aku menyesal karena doa yang pernah kulangitkan dulu. Namun, semua sudah terlanjur. Sekarang, aku hanya bisa berharap kebaikan segera datang untukmu. Aku akan mendoakanmu langsung di depan Ka’bah saat umroh nanti agar hidupmu segera menemukan arah kembali. Jadi, tolong, hiduplah dengan baik demi kedua anak kita juga demi Mama dan Papa yang tidak lelah berjuang mengusahakan kesembuhanmu.”
“Aku memang pantas mendapatkan ini semua karena kesalahan dan dosa-dosa yang pernah kulakukan, bukan karena doa yang kau panjatkan.” Galih bicara dengan suara bergetar. Dia mengerjap hingga air matanya jatuh membasahi bantal.
Hot Chapters