Satu Kali Lagi, Boss!
Daripada berdiam diri di kamar dengan pikiran liar dan gak jelas, aku berjalan pelan menuju rak buku besar tak jauh dari pintu kamar utama.
Pak Jeremy sepertinya suka membaca. Sayangnya, begitu kuteliti judul-judulnya, hampir semua berisi topik ekonomi, finansial dan bisnis yang berat. Otak mungilku tidak akan sanggup mencernanya.
Namun, mataku akhirnya tertambat pada satu buku psikologi modern tentang seni mempengaruhi orang. Aku mengambilnya, lalu duduk di atas lounge chair empuk di dekat rak.