Gairah Sopir dan Majikan
Pikirannya melantur ke masa lalu di Jogja—bau minyak urut, suara tawa Endah yang renyah di pangkalan, dan Brian yang dulu sering mencuri-curi pandang pada wanita itu.
***
Siang itu, udara di dalam sekat triplek yang menjadi kantor operasional Slamet terasa sangat pengap. Kipas angin kecil di sudut meja hanya memutar udara panas yang bercampur debu. Slamet menatap tumpukan manifes, tapi matanya terus melirik ke laci. Ia menarik laci itu, mengambil brosur "Sita’s Herbal & Massage".
"Slamet? Kamu di dalam?"