Terjerat Pesona Papa Temanku
Arunika menahan senyum.
Kaivan membersihkan tenggorokannya, lalu bicara dengan nada agak kaku, seperti orang yang sedang latihan pidato.
“Halo, Nak,” ucapnya. “Ini papa.”
Arunika menoleh, matanya langsung berbinar.
Kaivan melanjutkan, semakin antusias. “Kamu denger, kan? Papanya ganteng ini.”
Arunika mendengus. “PD.”
Kaivan tidak peduli. Ia tersenyum sendiri, lalu mengelus perut Arunika lagi. “Mama kamu hebat banget, tahu. Tapi belakangan ini dia suka aneh.”