KEMBALINYA SANG RATU
Filosofi itu, baginya, adalah kunci untuk menyambung kembali peradaban yang telah lama terpisah oleh konflik dan ketidakpastian.
Suatu sore, setelah mengikuti seminar dan diskusi panjang, Lintang duduk di tepi pantai Jeju, memandangi lautan yang tenang. Ia teringat kembali akan panggilan dari Buton—saat hujan menyirami pantai, ketika doa-doa para nenek dan kakek terdengar dalam bisikan angin. Begitu pula di sini, di Jeju, ia menemukan bahwa setiap suara alam adalah pelajaran, setiap riak ombak adalah puisi. Ia menuliskan dalam jurnalnya: