Karakter flat dan round itu seperti perbedaan antara kopi instan dan manual brew—sederhana vs kompleks. Flat characters biasanya satu dimensi, punya sifat atau motivasi tunggal yang konsisten sepanjang cerita. Mereka seperti pelengkap dalam narasi, misalnya tetangga cerewet di 'Laskar Pelangi' yang hanya muncul untuk memarahi anak-anak. Aku sering menemukan mereka di cerita fabel atau plot-driven stories, di mana karakter hanya alat untuk memajukan alur.
Round characters justru lebih mirip manusia beneran. Mereka punya lapisan emosi, kontradiksi, dan perkembangan seiring cerita. Take Tohru Honda dari 'Fruits Basket'—dia bisa terlihat optimis di depan orang, tapi punya trauma mendalam tentang keluarga. Novel-novel coming-of-age biasanya kaya round characters karena fokusnya pada transformasi personal. Yang menarik, karakter flat bisa jadi round jika penulis memberi backstory mendadak, kayak Snape di 'Harry Potter' yang awalnya sekadar guru galak.