Sentuhan Panas Editorku
"Ini ... di grup penulis PenaKata kayaknya rame banget. Nggak tahu mereka lagi ngomongin apa. Chat-nya sudah ratusan padahal masih pagi begini."
Wildan menguap pelan, lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan santai. "Alah, paling juga cuma bahas hal receh. Kamu tahu sendiri kan, komunitas penulis kalau sudah kumpul isinya cuma curhat soal writer's block atau gosip profit share yang belum masuk, bagi hasil iklan belum cair.”
Meysa menggeleng, wajahnya tidak menampakkan ketenangan sedikit pun. "Tapi nggak sebanyak ini biasanya, Wil. Aku belum baca isinya apa, soalnya aku lagi bingung sama hal lain."