Gadis Mungil CEO: Mommy, Please Jadi Ibuku
Alhasil, dia berjingkrak-jingkrak di samping meja sembari menunjuk-nunjuk bunga matahari itu, lantas berseru, “Untuk Ibu! Bunga matahari untuk Ibu!”
Aku menghentikan langkahku, lantas menutup mulutku menggunakan kedua telapak tangan dengan takjub. “Astaga... Indah sekali!”
Beberapa saat kemudian, kuambil pot oranye berisi setangkai bunga matahari yang sudah tumbuh menjadi kuncup itu, memandanginya tanpa berkedip.
“Inikah bunga yang kau tanam di sekolah waktu itu, Cantik? Sudah berkuncup rupanya, ya?” tanyaku lembut.