Ketika yang Kubenci Menjadi Takdirku
“Tadi aku lihat kamu keluar, langsung saja ke sini, takut salah orang. Bunga ini bukan buat gombal, ya. Aku cuma ingat kamu suka mawar putih.”
Aisyah menerima bunga itu dengan canggung. Kenangan masa lalu muncul begitu saja—tentang diskusi panjang, tawa ringan, dan kebaikan Farid yang selalu konsisten.
Di lantai atas, dari balik kaca besar ruang kerjanya, Rayyan berdiri menatap pemandangan di bawah. Pandangannya tertuju pada Aisyah… dan pria yang berdiri di hadapannya. Ia menyipitkan mata, melihat bunga di tangan Aisyah, lalu ekspresi hangat di wajah gadis itu.
Hot Chapters