Ketika Takdir Menyapa
Dennis melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, nyaris seperti bisikan, “Aku nggak mau melihat kamu menangis seperti tadi. Kamu kuat. Dan kamu pantas untuk bahagia.”
Saras hanya bisa mengangguk. Tak ada kata lain yang bisa keluar, hanya rasa hangat yang menelusup di antara kesunyian.
Saat mobil Dennis menjauh, lampu belakangnya perlahan menghilang di tikungan. Saras berdiri di depan rumah, menatap langit sore yang tampak indah dan ia merasa sedikit lebih ringan.
*
“Saras, boleh Ibu bertanya sesuatu?” suara Gayatri terdengar pelan, tetapi ada ketegasan tersembunyi di dalamnya.
Bab Populer