Qolbu Quddus
Safira menahan tangisnya.
Dia tidak terbiasa menangis dan menunjukkan pada semua orang, bahwa dirinya lemah. Bukankah, hal tragis ini selalu di rasakan sepanjang hidupnya. Dia tidak boleh menyerah dalam hidup hanya karena kehilangan seorang sahabat. Bukankah dia sudah kehilangan semuanya, ibu dan ayah nya yang tak mengakui anaknya, di usir dari rumah pamannya, hingga selalu di bully di sekolah. Luka apa lagi yang tak pernah dia rasakan. Jadi, dia tidak akan pernah menyerah. Dia akan tetap hidup, berdiri dengan menegakkan kedua bahnya, walaupun hati hancur bagaikan serpihan debu yang bertebaran.
Bab Populer