Roman (sa) Arunika
Nayla Salmonelladada tengah sakit seperti ditusukkering sudah air matakuau antara ibu dan lukakotak aku yang tersakiti
ucapnya pelan dengan dahi berkerut dan bibir terbuka sedikit.
Aku yang hanya bisa terdiam, bingung harus berkata apa. Bibirku hanya terkatup rapat, hidungku kembang kempis menahan tangis. Hanya lambaian tangan lemah yang kuberikan padanya. Aku melepas tangannya dan tetap beranjak. “I miss you, too …,” balasku lirih.
Kami berpandangan untuk yang terakhir kalinya, dalam rindu yang akhirnya terucap ke udara. Meski masih dipagari keraguan masing-masing, tapi akhirnya terucap juga.
Beliebte Kapitel