Yuk, Nikah!
“Vivi! Udah, ih, ampun! Nanti bantalnya rusak!”
Ia tak menggubrisku, malah semakin gencar saja memukuli.
“Rasain! Gimana, tuh, rasanya dijahilin terus-terusan, hah?!”
Aksinya kian meresahkan saja. Vivi menargetkan wajahku berulang kali. Kucoba tahan dengan kedua tangan tetap saja kena wajahku. Sial sekali.
Kesal, segera kutangkap tangannya. Dengan tangkas kujingkir-balikkan tubuh Vivi.