Ide Gila Bapak!
Emir juga tampak hadir, membawa Ibunya yang memakai kursi roda.
Kupikir apa tak mengapa beliau diajak? Aku takut kesehatannya belum pulih betul.
"Selamat ya, Pak, Bi, emm ... Bu maksudku." Kami tertawa, akhirnya aku sudah bisa menyebut Bibi dengan Ibu.
Sungguh, bibi adalah pengganti Almarhumah Ibuku, semoga memang yang terbaik untuk semua.
"Jadi, kapan kamu akan menyusul, Dwi?" Ibuku bertanya, sembari melirik Emir yang duduk tak jauh.
Hot Chapters