Luka Seorang Istri
“Ibu bisa menyusul kalau mau ikut, tolong kasih aku waktu aku sama Dilra, ini rumah tanggaku Bu, bukan aku tak mau Ibu di dekat kami, tapi jujur aku kecewa sama Ibu.”
“Lang hiks hiks.”
Ibu menangis lagi.
Aku menepuk pundaknya.
“Jangan menahanku Bu. Aku tidak akan pernah lupa kewajibanku pada Ibu, tapi bukan berarti Ibu boleh, memperlakukan istriku seperti itu. Aku malu Bu. Selama ini aku berpikir Ibu amanah menggunakan uang yang aku kasih. Ibu bilang sayang sama Dilra, mau mengurusnya pas keguguran, tapi kenyataannya apa? Sekarang istriku pergi Bu. Dia bawa anakku juga. Apa Ibu enggak merasa kehilangan Dion, dia cucu Ibu!”